page.php?23
 
Rapat Kerja Jaringan Nasional Perlindungan Anak Berkonflik Dengan Hukum

Rapat kerja Jarnas AKH merupakan lanjutan kegiatan Perencanaan Strategis Pembentukan Jaringan Nasional Perlindungan Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Indonesia yang dilakukan sebelumnya di Berastagi, Sumut. Rapat kerja yang diselenggarakan di Balai pertemuan Bumi Sangkuriang, Bandung dari 29 s/d 31 Juli ini bertujuan menyusun rencana kerja dari jaringan nasional. Tidak jauh beda dengan pertemuan sebelumnya, selain lima tim inisiator Pusaka Indonesia Medan, RJWG Aceh, Komnas Perlindungan Anak Jakarta, LAHA Bandung, dan SCCC Surabaya, hadir juga perwakilan individu kelima mitra lembaga tersebut

Salah satu rekomendasi dari pertemuan tiga hari tersebut adalah mendesak pemerintah dan DPR untuk segera membahas dan mengesahkan Rancangan Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak menjadi Undang-undang
Posted by fahmi on Wednesday 09 March 2011 - 14:36:13  printer friendly create pdf of this news item
Perencanaan Strategis Pembentukan Jaringan Nasional Perlindungan Anak Konflik Hukum

Perencanaan Strategis Jaringan Nasional Perlindungan Anak Konflik Hukum yang diselenggarakan di Hotel Sibayak Berastagi, 23 – 26 Juni 2010, telah berhasil merumuskan arah strategis jaringan 3 tahun ke depan. Dalam pertemuan tersebut juga telah menyepakati visi jaringan yaitu “Terwujudnya tatanan yang menjamin penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak anak yang berkonflik dengan hukum”, sedangkan visi yang telah dirumuskan oleh peserta starategi planning adalah (1) meningkatkan kapasitas jaringan untuk mendorong terwujudnya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak Anak yang Berkonflik dengan Hukum; (2) melakukan pendidikan publik untuk menjauhkan dan melindungi Anak yang Berkonflik dengan Huk um dari proses hukum formal; (3) melakukan upaya yang sistematis untuk mendorong negara meningkatkan kualitas layanan terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum; (4) meningkatkan pemahaman dan keberpihakan aparatur negara terhadap hak Anak yang Berkonflik dengan Hukum; dan (5) melakukan advokasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik Anak yang Berkonflik dengan Hukum
Posted by fahmi on Wednesday 09 March 2011 - 14:35:02  printer friendly create pdf of this news item
Lokakarya Asesmen Anak Konflik Hukum

Lokakarya hasil asesmen kondisi anak konflik hukum di 5 kota di Indonesia yang dilaksanakan Yayasan Pusaka Indonesia dan 4 lembaga mitra LAHA Bandung, Komnas Perlindungan Anak, WGRJ Aceh, SCCC Surabaya bekerjasama dengan Uni Eropa, pada tanggal 3-5 Mei 2010, menghasikan dua rekomendasi “Jauhkan Anak Dari Penjara”. Dua rekomendasi yang ditujukan kepada Mabes POLRI, Departemen Sosial RI, Kementrian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Mahkamah Agung RI, Jaksa Agung RI, serta Departemen Hukum dan HAM ini, meminta institusi tersebut untuk melakukan dengan segera perlindungan dan pemenuhan hak anak yang berkonflik dengan hukum harus segera diperbaiki
Posted by fahmi on Wednesday 09 March 2011 - 14:34:05  printer friendly create pdf of this news item
Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparat Penegak Hukum dalam Penanganan Anak Konflik Hukum

5 kota besar di Indonesia, Banda Aceh, Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penegak Hukum dalam Penanganan Anak Berkonflik Hukum (ABH). Pelatihan ditujukan kepada otoritas yang terkait dengan penanganan ABH meliputi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Balai Permasyarakatan (Bapas), dan Lembaga Permasyarakatan Anak di 5 wilayah tersebut. Hal ini dilakukan Sebagai bagian rangkaian program “Evaluasi Implementasi Konvensi Hak Anak Menuju Pembentukan Peradilan Anak yang Restoratif
Posted by fahmi on Wednesday 09 March 2011 - 14:33:44  printer friendly create pdf of this news item
Program Emergency Response for Children as an Impact of West Sumatra Earthquake

Dalam rangka proses pemulihan trauma anak terhadap peristiwa bencana Gempa Bumi yang melanda sebahagian wilayah Sumatera Barat, Yayasan Pusaka Indonesia melakukan program Psikososial melalui kegiatan bermain dan belajar di Tenda Bermain Anak. Kegiatan ini dilakukan dengan harapan dapat melupakan sejenak penderitaan yang mereka alami akibat Gempa Bumi
Posted by fahmi on Wednesday 09 March 2011 - 14:32:35  printer friendly create pdf of this news item
SUDAH BERDAMAI, PN MEDAN TETAP VONIS ABG PENCURI AYAM

Walaupun sudah berdamai, Hakim Pengadilan Negeri Medan Kusnoto, SH,  tetap juga menjatuhkan pidana penjara selama enam bulan kepada terdakwa JA (17) tahun (11/1), karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta melakukan tindak pidana pencurian 3 (tiga) ekor ayam. Sebelumnya JPU Firman Halawa, SH dari Kejaksaan Negeri Medan menuntut terdakwa selama 1 (satu) tahun Penjara. A

tas putusan tersebut kuasa hukum terpidana dari Yayasan Pusaka Indonesia Horaslan Sinaga, SH mengajukan banding.


Yayasan Pusaka Indonesia, sebagai lembaga yang konsern terhadap perlindungan anak, menyanyangkan putusan hakim dan  tuntutan JPU tersebut, karena tidak mencerminkan rasa keadilan dan sangat bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap anak dan rasa keadilan bagi terdakwa, terlebih sehari setelah kejadian saksi korban dan keluarga terdakwa telah menadatangani surat perdamaian, kata Horaslan..


Menurut Horaslan penanganan anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) ke jalur formal (Penangkapan, penahanan, pidana penjara) hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir, dimana apabila telah ada upaya lain (perdamaian) maka Penangkapan, penahanan, pidana penjara terhadap anak (terdakwa) tidak dapat diterapkan;
“seharusnya Penyidik, Penuntut Umum, Pengadilan tidak perlu meneruskan perkara yang dilakukan terdakwa ke persidangan, karena saksi korban selaku pemilik ayam sudah memaafkan perbuatan terdakwa “ kata Horaslan.

Ditambahkan Horaslan, semestinya aparat penegak hukum mengacu kepada Pasal 16 ayat 3 Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dimana secara tegas  menyebutkan  “penangkapan, penahanan atau tindak pidana penjara anak hanya dapat dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir”.


Tidak itu saja,
perintah Telegram  yang diterbitkan Kabareskrim Polri No. TR/1124/XI/2006 tanggal 16 November 2006  yang ditujukan  kepada Kapolda se Indonesia dan Keputusan Bersama tentang penanganan anak berhadapan dengan hukum yang dan Kesepatan Bersama  Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Polri, Menteri hukum dan HAM, Menteri Sosial dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, tanggal 22 Desember 2009 menyangkut Diversi dan Retorative Justice, belum dapat melindungi anak berkonflik dengan hukum, karena  dalam prakteknya pihak penegak hukum selalu mengabaikan aturan ini, katanya.

Awal kejadian


Kejadian berawal pada tanggal 06 Desember 2010 sekitar pukul 05.00 Wib, terdakwa diajak teman-temannya yang sudah dewasa DN, AN dan IM (belum tertangkap) untuk mengambil ayam milik Hamdani Nasution (Saksi korban), karena terdakwa dan teman-temannya tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Peran terdakwa adalah memantau dan berteriak kalau melihat ada orang lain.

Naas bagi terdakwa saat temannya mengambil ayam, terdakwa ditangkap warga dan menyerahkan ke Polsek Medan Timur.
Keesokan harinya, saksi korban dan orang tua Terdakwa telah menadatangani Surat Perdamaian, dimana Saksi korban telah memaafkan perbuatan terdakwa dan berharap kepada Pihak Kepolisian tidak meneruskan perkara hingga ke persidangan, namun Polsek Medan Timur tetap melanjutkan kasus ini.
Posted by godeks on Saturday 15 January 2011 - 05:27:22  printer friendly create pdf of this news item
Mereka Tidak Berpihak Pada Anak


Mereka Tidak Berpihak Pada Anak

RS Als. RIN nama itulah yang  ditulis oleh PK (Pembimbing Kemasyarakatan) BAPAS Medan dalam laporan LITMAS ( Penelitian Kemasyarakatan) sebab nama yang diberi sejak kecil adalah RS dan di keluarga dan teman sepermainnan serta teman sekolah dipangil RIN (nama kecilnya) , sedangkan  surat yang di terima oleh BAPAS Medan (dari Polsek Medan Labuhan) untuk meminta dilakukannya  Penelitian Kemasyarakatan bernama RS Als. ANCUR, alasan PK tidak memberikan   nama Als. ANCUR (berdasarkan penelitiannya) adalah karena yang memberi nama panggilan/gelar tersebut adalah orang-orang yang yang tidak bertanggung jawab dan orang-orang tersebut juga yang menjebloskan RS Als.RIN ke sel tahanan Polsekta Medan Labuhan.

Disamping itu PK beralasan pemberiaan nama atau gelar yang tidak baik tersebut sangat bertentangan dengan syariat dan akan mempengarauhi physikys anak tersebut.

RS Als.RIN adalah  salah seorang anak yang bernasip kurang baik, dari hasil penelitian yang dilakukan  (LITMAS) bahwa RS Als.RIN sudah ditinggal oleh ayahnya sejak berumur sebelas tahun (ayah  ibunya bercerai dan ayahnya kawin lagi) sedangkan ibunya terpaksa harus menggantikan peran sang suami untuk mencari nafkah, ibu bekerja ke Malaysia  sebagai tukang masak di sebuah rumah makan, lalu RIN tinggal  bersama kedua adiknya dan seorang kakak (satu mamak lain ayah), dan tiga bulan belakangan sebelum terjadi peristiwa  yang mengakibat klien ditangkap oleh pihak berwajib (kasus pencurian), kakaknya RIN harus pula ke Aceh ikut bersama suaminya bekerja (tanggung jawab Istri terhadap suami), lalu RIN dan kedua adiknya   tinggal disebuah rumah kontrakan (Jl.Psr. Merah Menteng II Gg.Pak Pak  Kec.Medan Area) dan dekat rumah kontrakan tersebut ada paman RIN keluarga dari ibunya yang diharapkan juga oleh ibu RIN dapat memperhatikan ketiga anaknya. Kirman uang dari sang ibu kepada ketiga anaknya  itu tergadang lancar setiap bulannya dan terkadang tidak.


RIN juga tergolong anak yang rajin sambil sekolah ia juga berjualan kue begitu juga kedua adiknya juga membantu berjualan kue, namun usaha berjualan kue mengalami hambatan dan akhirnya berhenti sebab modal juga habis untuk menutup kekurangan biaya hidup (makan), sehingga sekolah RIN pun terpaksa korban (putus sekolah), lalu RIN adalah anak yang tidak putus asa dalam mempertahankan hidupnya dan kedua adiknya, ia bekerja menjadi pembantu rumah tangga (menyuci pakaian ) dan menjadi penjaga bayi, walaupun upahnya tidak seberapa namun terpaksa harus dilakukan oleh RIN dan sekali-sekali berharap mendapatkan makanan gratis dari tempat ia bekerja (majikan).

Lingkungan tempat tinggal RIN dapat digolongkan kurang baik bagi pertubuhan jiwa seorang anak (yang labil dan mudah terpengaruh dan dipengaruhi) untuk melakukan perbuatan pelanggaran hukum kenapa tidak sebab RIN yang masih tergolong anak-anak, pendidikan yang rendah, belum berpengalaman dan ekonomi yang tergolong miskin, sementara tinggal dilingkungan yang tergolong tidak baik (orang dewasa yang lebih berpengalaman dalam berprilaku yang tidak benar dan dewasa dalam segi umur)  yang akhirnya juga merupakan faktor penyebab klien menjadi tersangka dalam pelanggara hukum (tindak pidana pencurian). Awalnya dari hasil interviue (pertama) kepada RIN , ia tidak mengatakan terus terang kepada Penyidik (juru periksa) dan begitu juga kepada PK tentang kronologis yang sebenarnya, singkat cerita ia mengatakan dirinya telah silap ketika  melihat laci tempat uang disimpan, disebuah toko (tempat kejadian) dalam keadaan terbuka lalu diambilnya (dicurinya) uang tersebut  ketika PK menanyakan apa yang melatar belakangi hingga sampai melakukan pencurian RIN menjawab dengan alasan terpaksa sebab adiknya sangat membutuh uang untuk biaya/keperluan sekolah.


Dengan pertanyaan lain secara rinci, bersama siapa temannya pergi, sebelum sampai ke TKP terlebih dahlu kemana, artinya pertanayaan PK terurut mulai titk awal bergerak, darimana ?, jam berapa ?, kemana saja ?, dengan siapa ?,  naik apa ? dan apa saja  yang dilakukan ? Pembimbing Kemasyarakatan menemukan kejanggalan dan kecurigaan, dan mencoba untuk lebih familyer dalam melakukan interviue namun klien tetap memberi keterangan seperti yang ada didalam hasil pemeriksaan oleh penyidik. Lalu PK melanjutkan penelitian ke lapangan (dimana klien bertempat tinggal) dan didapat imformasi teman klien yang sama-sama pergi ke sebuah toko (TKP) adalah empat orang ibu (orang dewasa yang telah berkeluarga) adalah tergolong orang yang tidak baik prilakunya (bahkan imformasi yang didapat berstatus swbagai WTS (Wanita Tuna Susila), sehingga semangkin kuat kecurigaan PK bahwa RIN adalah  seorang anak yang telah diperalat (dimamfaatka untuk melakukan tindak pidana yang menguntunkan bagi keempat ibu tersebut) artinya RIN adalah korban orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, begitu juga imformasi yang diperoleh dari kakak klien (ketrika dilakukan interviue sebagai pihak keluarga) tentang siapa sesungguhnya keempat ibu tersebut.

Lalu berdasarkan data dan iformasi yang diperoleh PK di lapangan (dimana klien bertempat tinggal), melakukan interviue ulang (kedua)  kepada kliennya  ( RIN ), interviue yang kedua juga dilakukan di LP Wanita Medan dan ikut bersama kakak serta abang ipar RIN (yang ingin menjenguk adiknya, belum pernah bertemu setelah ditangkap ) dari interviue kedua , PK baru mendapatkan data dan imformasi yang sesungguhnya dari RIN yang terjadi pada diri RIN,

kesimpulannya Interviue yang pertanama kepada RIN ternyata tidak benar, RIN berbohong karena merasa takut sebab telah diancam oleh keempat ibu tersebut untuk tidak menceritakan yang sesungguhnya dan RIN dijanjikan akan diurus oleh keempat ibu tersebut  hingga bebas, ternyata perbuatan/peristiwa pencuriaan tersebut  semua telah direncanakan malamnya sebelum melakukan  pencurian esok harinya, pada saat melakukan perencanaan tersebut dan mengajak klien,  klien sempat menolak ajakan dari keempat ibu tersebut untuk melakukan pencurian dengan alasan takut ketahuan/tertangkap oleh pihak kepolisian, namun dengan bujuk rayu oleh keempat ibu tersebut dan juga dijanjikan bila berhasil akan mendapatkan uang dan RIN pun akhirnya luluh dan menyetujuai ajakan tersebut, yang mana dalam fikiran dan hatinya  berubah berbalik 360 derajat yang tadinya adalah rasa takut ketahuan dan akan tertertangkap berubah dengan harapan keberasilan mendapatkan uang dan bisa membantu biaya sekolah adiknya.

Dan selanjutnya PK melanjutkan penelitiannya kepada pihak korban (juga ikut kakak klien dan abang ipar klien) setelah mendapatkan data dan imformasi dari pihak koban (yang juga mencurigai bahwa kejadian tersebut adalah telah direncanakan sebelumnya disamping itu PK juga memainkan perannya sebagai mediaator antara  pihak Korban dan pihak tesangka (RIN) yang hasilnya adalah pihak korban pada prinsifnya dapat memaafkan RIN dan dibuat surat perdamaian antara keluarga RIN dan pihak korban, namun proses hukun tetap lanjut, dengan demikian  PK berharap surat tersebut setidaknya dapat menjadi bahan pertimbangan oleh hakim untuk meringankan hukuman RIN nantinya. Ketika kejadian pada hari Senin tanggal 01 Nopember 2010 di sebuah toko “BUDI MAKMUR “ Jl Veteran Psr X Ds.Manunggal Kec.Medan Labuhan, walau telah direncanakan dan strategi telah diatur namun akhirnya ketahuan juga RIN tertangkap tangan melakukan pencurian uang dari dalam laci toko tersebut (sebesar Rp.78.000,-),

Setelah RIN tertangkap maka ke empat ibu tersebut ( Ibu DEDES, Ibu IRMI BONENG, Ibu SUSI dan Ibu SARI), memainkan peran selanjutnya yaitu bermainan sandiwara, memarahi RIN dan memukuli/menampar klien, namun usaha mereka untuk bermain sandiwara, mengembalikan uang yang dicuri dan memarahi dan memukuli/menampar RIN meminta maaf kepada pihak korban (pemilik toko) dan tidak membuahi hasil juga, sebab pemilik toko yang mencuragai keempat ibu tersebut dan  masyarakat yang telah ramai mengetahui menyaksikan (hingga jalan raya sampai macet), sepakat untuk membawa/menyerahkan kepada pihak yang berwajib / kepolisian kelima orang tersebut. Ketika sampai di kepolisian kelimanya diperiksa dan akhirnya RIN dijadikan tersangka sedangkan keempat ibu tersebut berhasil memainkan perannya (sandiwara/action ketiga) mengelabui petugas (penyidik/juru periksa) sehingga dinyatakan bebas dan hanya dijadikan sebagai saksi. Nasib anak Indonesia  yang salah satunya bernama RIN semangkin pahit dan getir, berada dalam tahanan .

Setelah LITMAS selesai dibuat oleh PK menyampaikan hasil LITMAS tersebut kepada pihak penyidik yang menagani perkara tersebut dan sekaligus melakukan koordanasi, menyampikan bahwa terjadi kontropersi yang mana menurut penyidik tersangka RIN adalah melakukan pencurian dengan kemauanya sendiri sedangkan hasil penelitian PK ditemukan bahwa perkara tersebut telah direncanakan sebelumya dan RIN adalah yang dipengaruhi untuk ikut melakukan tindakan pidana pencurian, lalu tidak lama beberapa hari kemudian PK mendapat khabar berkas pihak enyidik yang dilimpahkan ke Jaksa dikembalikan karena sangat bertentangan dengan hasil LITMAS (imformasi juga diketahui dari JPU yang menangani perkara) sehingga tersangka RIN diperiksa kembali oleh pihak penyidik.

Pada hari Selasa tgl, 14 Desember 2011, PK mendapat imformasi melalui via HP (pukul 11.57 WIB) dari pihak kejaksaan bahwa PK dimohon hadir di persidangan PN Lubuk Pakam di Labuhan Deli untuk mendampingi tersangka RIN sidang akan dilaksanakan sekira pukul 13.00 WIB , PK mohon izin kepada Kasi (atasan) untuk menghadirinya  dan PK diperintahkan untuk membuat surat tugas dan menyiapkan berkas yang dibutuhkan di persidangan, lalu dengan kecepatan yang cukup tinggi dengan mengendarai sepeda moto PK berusaha untuk sapai ketujuan tepat waktu, sesampainya PK ke PN Lubuk Pakam di Labuhan Deli, lau menemui JPU yang bersangkutan, teapi apa yang didapat, JPU meminta maaf bahwa sidang telah selesai digelar,

semangat PK yang tandinya mengebu-gebu untuk melakukan pendapingan anak (RIN) dipersidangan akhirnya berubah dengan rasa kecewa yang amat sangat , lalu PK mencoba untuk menyabarkan diri dan bertanya lagi kepada Jaksa, siapa saja yang hadir, apakah keluarga tedakwa ada yang hadir ? Dijawab oleh Jaksa yang bersangkutan tidak ada, lalu ditanya lagi oleh PK apakah ada saksi yang di hadirkan jaksa menjawab tidak ada, lalu PK bertanya lagi kepada Jaksa kapan rencananya sidang lagi ? Dijawab minggu depan (Selasa tgl..21 Desember 2010), Apa acaranya ? dijawab Jaksa  “tuntutan”, semangkin timbul rasa marah PK, lalu PK menunggu Hakim yan bersangkutan yang sedang bersidang (terdakwa lainnya) , lalu selesai itu PK menghadap kepada Hakim yang telah menyidangkan perkara terdakwa atas nama RIN , menyampaikan keberatan, bahwa PK baru mendapatkan imformasi via  HP untuk mendampingi sidang dan telah berupaya sampai kepersidangan namun sidang telah digelar, hakim hanya membeikan komentar “Kata Jaksa, PK BAPAS tidak hadir”, maka sidang tetap dilanjutkan, lalu PK pada saat itu  tidak lagi mau mempermasalahkan tidak dihadirinya PK dipersidangan, selanjutnya PK  menceritakan sekilas tentang  kronologis yang telah terjadi yang pada intinya klien telah diperalat oleh temanya (keempat ibu tersebut) yang hanya  dijadikan oleh polisi sebagai sebagai saksi , sang hakim  meresponya “O begitu rupanya, ceritanya” , lalu PK bertanya kapan dan apa acara selanjutnya, lalu Hakim menjawab “Minggu depan acara tuntutan, saya sudah katakan pada Jaksanya agar dituntut yang ringan saja lalu” lalu  PK mengajukan sarannya sesuai yang ada pada LITMAS, saran agar anak diberikan tindakan untuk AKOT (anak kembali ke orang tua), hakim tersebut merasa keberatan dan mengatakan pendapatnya kalau AKOT itu hanya bisa diberikan kepada anak yang umurnya di bawah 12 tahun untuk pernyataan tersebut akhirnya terjadi lagi perdebatan sebab menurutt PK tidak demikian, lalu Hakim menunjukkan UU No, 3 Thn. 1997 pasal 26 kepada PK, lalu PK mengatakan kalau begitu kita menafsirkan beda, menurut PK bisa, lalu PK mengatakan bagaimana kalau ditempatkan di Panti sosial , hakim juga tidak sependapat dengan alasan terdakwa dibutuhkan oleh adik-adiknya (sementara RIN aja dalam tahanan), terkesan dalam perdebatan tersebut bahwa hakim ingin menunjukan arogansinya (dialah yang merasa  pintarnya),.

lalu PK menanyakan apa  acara selanjutnya, lalu Hakim minta tolong panggilkan Jaksa yang besangkutan, setelah dipanggil Jaksapun datang lalu mengatakan, minggu depan kita sidang tuntut aja yang ringan , lalu PK mohon izin pulang dan terakhir mengatakan “Mohon minggu depan saya diikut sertakan dalam persidangan”   lalu dijawab hakim “Ya minggu depan kita sidang”.  PK pun keluar dari ruang Hakim dan sempat terdengar oleh PK, “Nanti Pak jaksa temui saya ya !”.

Pada tanggal 21 Desember 2010 sidang ke dua dilaksanakan, yang hadir dipersidangan  PK, terdakwa , Jaksa, Panitra dan Hakim, ketika Hakim menyuruh Jaksa membacakan tuntutan lalu PK angkat tangan dan mengatakan untuk diberikan kesempatan menyampaikan hasil penelitiannya lalu hakim mengatakan apakah yang mau disampaikan sudah ada di dalam LITMAS ini, lalu dijawab “Tidak ada, yang mau disampaikan adalah   apa yang  telah dibicarakan (dirapatkan dengan atasan)”, akhirnya catatan/tertulis PK tersebut yang mau disampaikan  ada tiga point yang dianggap penting, lalu Hakim memintanya, setelah dibaca lalu hakim mengatakan kepada Jaksa sidang kita tunda dan menurut PK BAPAS agar dihadirkan keempat saksi ibu-ibu tersebut, sehingga pembacaan tututan tidak jadi . Pada tanggal 28 Desember 2010 sidang ketiga digelar namun keempat ibu tersebut (yang sama-sama melakukan pencurian tidak dihadirkan) yang dihadirkan hanya  saki korban dan tetangga korban.

Pada tanggal 03 Januari 2011 acara tuntutan dibacakan dan begitu juga dengan putusan, hakim menuntut tiga bulan penjara dan hakim memutus sama dengan tuntutan jaksa. Demikian kenyataan yang terjadi,  ternyata mimpi PK  untuk mendapatkan AKOT tidak berhasil, RIN tidak hanya korban dari keempat orang  dewasa yang tidak bertanggung jawab namun juga korban dari penegak hukum yang belum menjiwai tentang anak.

Dan jika kita simak lagi cerita / peristiwa diatas maka dapat kita mengambil kesimpulkan bahwa penegak hukum tersebut juga pelanggar hukum, sidang digelar tampa hadirnya PK, anak tidak didampingi pengacara, anak tidak didampingi keluarga, saksi yang seharusnya dihadirkan tidak dihadirkan dan  belum adanya perlakuan khusus terhadap anak yang berkoplik dengan hukum.

PK sebelumnya juga telah menyampaikan/melaporkan  ke KPAID dan memohon pihak KPAID untuk disurati ke Kapolda agar keempat orang ibu-ibu yang mengajak/mempengaruhi  RIN tersebut ditangkap.

Tilulis oleh Saiful Azhar (Bapas Kls.I Medan)
Posted by godeks on Monday 10 January 2011 - 07:02:18  printer friendly create pdf of this news item
Tips Mencegah Bahaya Rokok Bagi Pelajar


Saat ini kita tidak kesulitan menemukan para pelajar yang sedang mengisap rokok. Mereka cukup mudah kita temui di beberapa tempat umum, seperti: kendaraan umum, terminal, jalanan, restoran, atau bahkan di lingkungan sekolah mereka sendiri. Kita sebagai orang tua atau saudara yang kebetulan memiliki anak pelajar tentu sangat khawatir melihat kenyataan ini.

Terlebih sekarang, merokok tak hanya dimonopoli oleh kaum laki-laki saja, para wanita pun sudah terbiasa dengan kebiasaan buruk ini. Di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Bandung, tidak sedikit pelajar putri yang sudah mulai mengenal rokok, bahkan sudah ada yang menjadi perokok aktif.

Umumnya para pelajar yang merokok ini terpengaruh dari lingkungan sekitar yang memungkinkan mereka untuk merokok, sehingga akhirnya mereka ikut-ikutan mencobanya. Para pelajar ini mengaku akan merasa lebih dewasa, lebih berani, dan lebih gaul, jika mereka merokok. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh Yayasan Jantung Indonesia ada sebanyak 77% pelajar yang merokok karena mendapatkan tawaran dari temannya sendiri.

Selain faktor lingkungan, kurangnya informasi tentang bahaya merokok juga menjadi salah satu penyebab utama banyaknya pelajar yang suka merokok. Padahal, setiap rokok yang diisap dampaknya hampir sama dengan orang yang mengkonsumsi zat kimia, karena setiap rokok mengandung lebih dari 4.000 unsur kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Melihat sebegitu bahayanya rokok, seharusnya semua pihak, baik dari pemerintah, orang tua, maupun sekolah melakukan sosialisasi secara gencar tentang bahaya rokok bagi pelajar dengan berbagai kegiatan yang riil.

Adapun beberapa usaha yang bisa kita tempuh untuk menghindari para pelajar merokok, antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Sekolah harus terbebas dari asap rokok. Setiap guru, orang tua, maupun orang lain yang berkunjung ke sekolah harus dilarang merokok seperti halnya di sebuah rumah sakit.
  2. Setiap ada event atau kegiatan yang melibatkan anak-anak pelajar dilarang menggunakan sponsor dari perusahaan rokok.
  3. Ketika anak berada di rumah, orang tua dilarang memperlihatkan dirinya merokok. Ini khusus bagi orang tua yang belum berhenti merokok. Namun alangkah lebih baiknya lagi jika orang tuanya juga berhenti merokok, karena biasanya apa yang dicontohkan orang tua akan diikuti si anak.
  4. Setiap orang tua diharapkan mengikusertakan anak-anaknya ke dalam kegiatan-kegiatan positif sepulangnya dari sekolah, seperti: kursus, olahraga, dan lain sebagainya.
Mulai sekarang mari kita budayakan hidup sehat dan mulai meninggalkan rokok, agar orang-orang yang kita cintai terhindar dari penyakit berbahaya. Ingat! Kesehatan lebih penting dari segalanya.

Sumber : http://www.anneahira.com/bahaya-rokok-bagi-pelajar.htm
Posted by godeks on Wednesday 05 January 2011 - 10:10:18  printer friendly create pdf of this news item
KPAI Ragukan Data BKKBN soal 51% Pelajar Ngeseks di Luar Nikah


KPAI Ragukan Data BKKBN soal 51% Pelajar Ngeseks di Luar Nikah


Jakarta, (Analisa)

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Hadi Supeno, mempertanyakan data yang dihimpun Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa 51 persen siswi di Jabodetabek melakukan hubungan seks pra-nikah.

Sebab, data riset yang dimiliki KPAI terkait penelitian yang sama tidak menunjukkan angka spektakuler seperti yang dilansir BKKBN. "Saya meragukan metode surveinya. Kita punya tapi tidak setinggi itu. Kita tahu pergaulan bebas remaja kita relatif liberal, tapi kalau 51 persen terlalu," kata Hadi. Pernyataan tersebut disampaikannya usai mengikuti Pelatihan Guru se Jabodetabek yang digelar Lazuardi Biru, di Wisma LAN, Jakarta Pusat, Senin (29/11).

"Kalau 51 persen berarti jika ada 10 anak berjalan lima atau enam anak sudah tidak perawan lagi. Saya ragukan itu," imbuhnya. Riset yang dilakukan KPAI di 12 kota di Indonesia tahun ini, tidak menunjukkan angka signifikan mengenai tingkat seks pra-nikah di kalangan pelajar di Indonesia. Survei tersebut melibatkan 2.800 responden pelajar laki-laki dan perempuan.

"76 Persen responden perempuan mengaku pernah pacaran dan mengaku 6,3 persen pernah ML. Sementara responden laki-laki 72 persen mengaku pernah pacaran dan sebanyak 10 persen pernah melakukan ML," jelas Hadi.

Meski demikian, Hadi meminta data yang digelontorkan BKKBN tersebut menjadi perhatian untuk kemudian ditindaklanjuti. "Artinya ada sesuatu yang harus dilaksanakan negara untuk menyelamatkan generasi," katanya.

Langkah kongkritnya, KPAI menawarkan pendidikan seks di kalangan pelajar. Pedidikan seputar organ tubuh, relasi atau hubungan lawan jenis, dan organ reproduksi.
"Pendidikan seks bukan berarti sosialisasi seks. Harus ada direction agar anak tidak terjebak dalam rimba raya pergaulan," tegasnya. "Mari jangan tabu memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya di rumah," imbau Hadi.

Usulan mengenai pendidikan seks yang diintegralkan dengan pendidikan di sekolah? "Di rumah dulu saja dimulainya, di sekolah belum siap, karena nanti akan banyak pertanyaan muncul memakai kurikulum apa dan bagaimana," ujarnya.

Di tempat sama, Deputi Gubernur DKI Jakarta Margani M Mustar, tidak yakin dengan data BKKBN tersebut. "Saya enggak yakin dengan data itu. Pelajar kita masih mempunyai norma yang baik dan prinsip keagamaan mereka walaupun pengaruh global luar biasa," ujar Margani. (dtc)

Sumber : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77510:kpai-ragukan-data-bkkbn-soal-51-pelajar-ngeseks-di-luar-nikah&catid=3:nasional&Itemid=128
Posted by B O D O on Tuesday 30 November 2010 - 07:46:36  printer friendly create pdf of this news item
Pemain Sinetron Perkosa ABG


Pemain Sinetron Perkosa ABG

10:55, 29/11/2010
Pemain Sinetron Perkosa ABG
BACA BAP: Robby Singh membaca Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polresta Barelang, Minggu (28/11) kemarin. //Wijaya Satria/Batam Pos/rpg

Korban Dijanjikan Dijumpakan dengan Artis-artis FFI

BATAM-Penyelenggaraan FFI Batam ternoda oleh ulah dari salah satu aktor pendukung FFI sekaligus pemeran pembantu di salah satu sinetron Tv swasta. Aktor dengan nama Roby Singh (27), telah dilaporkan ke Polresta Barelang  Sabtu (27/11) atas dugaaan pemerkosaan terhadap fansnya, Bunga, (13), siswi SMP di Batam.


Perbuatan aktor pemeran pembantu tersebut menurut laporan dari korban yang didampingi  orangtunya, dilakukan di Hotel Amir kamar nomor 622, tempat para artis pendukung FFI menginap.  ‘’Kejadiannya Sabtu (27/11) sekitar pukul 01.00 dini hari. Pengakuan korban saat itu memang dipaksa dan tak berdaya,” ujar kanit VI tindak pidana tertentu (tipiter), Iptu I Ketut Artha.

I Ketut mengatakan, bahwa modus pemerkosaan yang dilakukan Roby Singh, dengan mengibuli korban dan menjanjikan akan mempertemukan seluruh rombongan artis. “Saya sebelumnya dijanjiin akan diperkenalkan pada seluruh artis,’’kata Bunga.

Bunga sempat diajak pelaku ke Noname kafe  namun sebentar saja. Kemudian ia mengajak korban saya kembali ke hotel dan mengatakan bahwa di kamar tempat ia menginap sudah menunggu para artis. ‘’Saya percaya padanya. Namun Saat saya masuk, ternyata di dalam tak ada artis satupun,” ujar Bunga.


Masih kata Bunga, Roby menyuruhnya istirahat sebentar dan artisnya akan dipanggil. Tak berapa lama Bunga duduk di samping tempat tidur, tahu-tahu Roby langsung mendorong tubuhnya di tempat tidur dan melucuti pakaiannya satu persatu. Bunga mengatakan saat itu ia sempat melawan, tapi tenaganya tak kuat untuk berontak, sehingga terjadilah pemerkosaan. Kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh aktor pendukung FFI bocor infonya karena korban bercerita pada ortunya, bahwa ia telah dinodai oleh Roby.  Polisi akan menjeratnya dengan pasal 287 KUH-pidana pemerkosaan di bawah umur diperkuat dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang  perlindungan anak.


Roby Tertangkap di Bandara

Roby Singh ditangkap anggota Polresta Barelang dibandara Hang-Nadim Batam,  Sabtu (27/11) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Saya rasa pelaku sudah tahu kalau perbuatannya akan dilaporkan ke kepolisian oleh korban. Makanya ia segera menuju Bandara. Mungkin Roby ketakutan dan akan pulang ke Jakarta,” ujar Kanit VI Tipiter, Iptu I Ketut Artha.

Lanjutnya, I Ketut mengatakan, dengan laporan yang dibuat oleh orangtua korban, anggota Polresta Barelang Minggu pagi langsung melakukan pengejaran ke bandara.


Saat dilakukan penjemputan oleh kepolisian, Roby, tak melakukan perlawanan dan hanya menanyakan ada masalah apa dengan saya, seperti pura pura tak tahu tujuan penjemputan tersebut.  Dipihak lain, polisi berhasil mendapatkan bukti tentang laporan adanya dugaan pemerkosaan yang dilakukan Roby Singh.

Bukti yang didapat kepolisian mengenai dugaan pemerkosaan tersebut adalah rekaman CCTV yang dipasang di ruangan Hotel Amir. selain bukti CCTV yang sedang digali dan diteliti, polisi juga sudah memiliki bukti berupa ceceran sperma dan darah pada celana merah milik korban, Bunga.

“Kita sudah mendapat dua bukti kuat mengenai pemerkosaan yang dilakukan oleh aktor sinetron tersebut. Memang benar ada bukti sperma dan darah di celana merah tadi,” kata sumber di Mapolresta Barelang yang tak mau menyebut namanya.  (vie/rpg)

Sumber : http://www.hariansumutpos.com/2010/11/67247/pemain-sinetron-perkosa-abg.html
Posted by B O D O on Monday 29 November 2010 - 07:50:40  printer friendly create pdf of this news item
Go to page   <<        >>