page.php?23
 
Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

BALIKPAPAN - Dunia pendidikan kota Balikpapan kembali tercemar dengan ulah arogansi seorang oknum guru sekolah dasar.

Belasan murid di Sekolah Dasar 017 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah dipukul dan bahkan belasan murid kelas lima SD itu disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, peristiwa kekerasan terjadi pada 2 November 2010 lalu. Kejadian bermula di ruang kelas lima, ketika oknum guru memasuki ruang kelas dan menemukan plastik es yang tumpah dan tercecer di lantai kelas.


Tidak ada satu pun murid yang mengakui perbuatannya sehingga membuat oknum guru tersebut naik pitam dan memberikan hukuman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh tenaga pendidik tersebut. Beberapa murid sempat ditampar dan sejumlah murid lainnya dihukum dengan disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Akibat perlakuan yang diluar batas itu, murid-murid melaporkan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Sabtu lalu, sejumlah orangtua siswa dan pihak sekolah serta kelurahan dan kepolisian menggelar pertemuan guna menyelesaikan persoalan tersebut.


Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dan oknum guru menyesali dan menyampaikan permohonan maaf, serta membuat penyataan tertulis agar tidak mengulangi perbuatan itu.


Saat sejumlah media mendatangi, oknum guru menolak untuk diwawancarai bahkan marah ketika media televisi lokal mengarahkan kamera ke arah wajahnya. “Sudah-sudah saya tidak mau, pokoknya masalah sudah selesai dak tidak perlu diungkit-ungkit lagi,” ketus guru tersebut, Minggu (7/11/2010).


Sementara Kepala Sekolah Dasar 017 Karang Rejo enggan bicara banyak dan menyerahakan soal sanksi kepada Dinas Pendidikan Balikpapan.


“Menyesalkan kejadian ini dan sudah diselesaikan di kelurahan dengan orangtua murid. Ini bahan jadi evaluasi dan jadi pelajaran. Diknas berhak keluarkan sanksi,” ujar Kepala Sekolah SD 017, Misti.


Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=49964
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 09:58:14  printer friendly create pdf of this news item
Banyak yang Terpaksa Jadi Yatim-Piatu


Banyak yang Terpaksa Jadi Yatim-Piatu


IMMANUEL Tegar, bayi berusia 1,5 bulan, hanyalah salah satu korban keganasan gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 26 Oktober lalu.


Masih banyak korban lain yang bernasib sama dengan Tegar. Mereka tak cuma luka-luka, tapi juga kehilangan kedua orangtuanya. Reka Mayasari, gadis berusia 11 tahun asal Dusun 1 .ik ko. Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, misalnya.


Bulasat adalah salah satu desa yangterkena dampak tsunami terparah. Sudah sejak tsunami menerjang dusunnya, Reka hampir tak tertolong. Kakinya patah, sebagian tubuhnya terinfeksi karena tertusuk potongan kayu.


Beruntung, hari Minggu lalu relawan dari Yayasan Pusaka Indonesia yang tengah menyalurkan bantuan ke Bulasat menemukannya. Reka mengungsi hampir 4 km dari bibir pantai ke arah perbukitan di dusun itu.

Saat ditemukan, kakinya sudah membiru karena patah. Badannya juga terinfeksi karena potongan kayu menembusnya. "Kondisinya sudah sangat kritis. Kami tandu dari bukitsampai ke pantai, kata Rulianto, relawan dari Pusaka Indonesia.


Banyak pihak yang tergugah untuk menyelamatkan masa depan anak-anak malang yang terpaksa harus menjadi yatim-piatu itu. Partai Demokrat, misalnya, telah berinisiatif menjadikan mereka anak asuh.


"Mereka akan dapat beasiswa dari SD sampai SMA. Jadi, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup anak-anak itu sampai dengan selesai SMA akan ditanggung oleh kami," kata Umar Arsyal, Ketua Divisi Tanggap Darurat DPP Partai Demokrac yang mengunjung Mentawai akhir bulan lalu.

Anak-anak yatim putu yang akan .lusuh tak cuma dari Mentawai, tapi juga Wasior, Papua Barat. Jumlahnya sekitar 50 orang. Usia mereka berkisar mulai dari balita hingga belasan tahun.


Demi menjaga hubungan anak-anak yatim-piatu dengan sanak keluarganya, mereka akan tetap menjalani pendidikan di Mentawai dan Wasior, termasuk pindah ke pemukiman baru setelah pemerintah menetapkan relokasi bagi korban bencana. "Mereka nantinya tetap tinggal di Mentawai dan Wasior. Tetapi kalau mereka kelak mau melanjutkan pendidikan ke Jakarta, tetap kita perhatikan," papar Umar.


Immanuel Tegar, lanjutnya, juga akan dijadikan anak asuh oleh Ibu Ani Yudhoyono. "Bayi itu tetap tinggal bersama keluarganya di Mentawai, bukan diasuh langsung Bu SBY. Biaya hidup dan pendidikannya ditanggung, tapi bukan adopsi," jelas Umar.

Lantas, bagaimana dengan pembiayaan anak-anak yatim-piatu itu? "Pembiayaannya dari teman-teman Fraksi Partai Demokrat DPR. Sudah disepakati teman-teman di fraksi akan menyisihkan sebagian pendapatan dan uang sakunya bila dia ditugaskan ke luar negeri," jawab Umar, sebagaimana dikutip Kompas.com. vn


Sumber : http://bataviase.co.id/node/446780
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 07:31:35  printer friendly create pdf of this news item
Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok


Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok


Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok

Liputan6.com, Sidoarjo: Falen, balita berusia dua tahun asal Sidoarjo, Jawa Timur, belakangan menjadi terkenal karena kecanduan rokok. Saat ditemui di Dusun Ginonjo, Kecamatan Jabon, belum lama ini, Falen tengah asyik bermain dengan teman sebayanya. Anak kedua pasangan Samin dan Sulami ini diduga akrab dengan rokok karena terpengaruh lingkungan sekitar yang perokok.


Tingkat kecanduan Falen sudah tergolong berat, karena jika tidak diberi rokok ia akan menangis histeris. Dalam sehari bocah ini sudah sanggup menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok. Lebih parah lagi, bocah yang belum lagi lancar berkata-kata ini sudah mampu membedakan rasa dari berbagai merek rokok.

Meski menyayangkan perilaku sang buah hati, orangtua Falen mengaku kesulitan mencegah kebiasaan buruk itu. Jika dilarang, tak jarang bocah ini akan merokok secara sembunyi-sembunyi. Kini Samin dan Sulami menyatakan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan kebiasaan merokok Falen.(ADO)
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 07:23:06  printer friendly create pdf of this news item
PENDIDIKAN KEBENCANAAN PERLU DIGALAKkAN


PENDIDIKAN KEBENCANAAN PERLU DIGALAKkAN

Tiga rangkaian bencana di Tanah Air di bulan oktober 2010, banjir bandang di Kab. Wasior, Meletusnya gunung Merapi dan gempa Tsunami di Pulau Mentawai, menjadi peringatan pentingnya kesiapsiagaan untuk pengurangan Resiko Bencana (PRB). Potensi, kapasitas, kerentanan dan dampak bencana mesti diantisipasi untuk meminimalkan kerugian dan jatuhnya korban. Kerusakan dan jatuhnya korban akibat bencana sesungguhnya bukan ancaman akhir, justru ini menjadi awal muculnya berbagai kondisi yang menyebabkan kerentanan kehidupan masyarakat korban bencana.

Menyikapi bencana alam yang kerap terjadi ini, Deputi Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia Drs. Prawoto didampingi Staf Divisi Lingkungan  Paijo menyikapi bahwa perlunya membangun budaya keselamatan dan ketangguhan komunitas dalam upaya  pengurangan resiko bencana. Tanpa mengurangi pentingnya upaya-upaya emergency respon, tetapi hal yang jauh lebih mendasar dari itu adalah mengembangkan ketangguhan komunitas, membangun organisasi yang tangguh agar mampu mengelola resiko bencana secara baik dan mengembangkan kebijakan yang mendukung dalam upaya pengurangan resiko bencana.

Dalam konteks penguatan kapasitas masyarakat,  pendidikan menjadi kunci dan factor penting untuk mengurangi dampaknya. Hal ini relevan karena kita hidup dikawasan yang memang rentan bencana, terlebih karena hingga detik inipun para ahli sekalipun tidak bisa memprediksi kapan waktunya akan tejadi bencana.

Sesuai Kerangka Aksi Hyogo yang diadopsi 168 pemerintah pada 2005 lalu, pengetahuan dan pendidikan diintenfikasikan sebagai salah satu dari lima prioritas aksi. Di prioritas ketiga dinyatakan, untuk menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan dalam membangun budaya keamanan dan pemulihan di semua level. Pendidikan menjadi poin masuk yang penting untuk membangun komunitas yang peduli pada pengurangan resiko bencana, kata Prass biasa dipanggil

Ditambahkan Paijo, saat ini kita telah mempunyai UU No. 24 Tahun 2007, tentang  Penanggulngan Bencana dimana salah satu mandatnya adalah untuk membentuk Badan Penanggulangan Bencana di Tingkat Daerah (BPBD), permasalahannya, kata Paijo apakah  BPBD ditingkat kabupaten mempunyai kapasitas yang cukup baik dan memperoleh dukungan pendanaan yang dapat mereka kelola dalam upaya pengurangan resiko bencana, baik pada situasi emergency atau pada upaya-upaya mitigasi lainnya. Hal lain yang juga menjadi penting adalah kemampaun BPBD dalam memetakan kebutuhan, mengelola dan mendistribusikan bantuan kepada kelompok sasaran secara merata. Meskipun dalam persalan distribusi selalu tidak mudah, tetapi hal ini menjadi bagian penting, karena dibanyak contoh kasus, tidak tersedianya kebutuhan bahan makanan, pakaian dan obat-obatan karena terkendalanya distribusi bantuan yang ada.

Pusaka Kirim Relawan ke Mentawai

Sebagai sebuah organisasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan anak dan pengurangan resiko bencana, Yayasan Pusaka Indonesia mengirim relawannya ke Mentawai, keberangkatan tim relawan ini dimaksudkan untuk melakukan assessment terhadap situasi mentawai. Assessment menjadi langkah awal bagi Pusaka Indonesia untuk bisa mengembangkan rencana lebih lanjut berperan aktif terhadap upaya pengurangan resiko bencana pada situasi emergency, pemulihan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Posted by godeks on Friday 29 October 2010 - 09:44:31  printer friendly create pdf of this news item
Hilang Setelah Berteman di Facebook


Hilang Setelah Berteman di Facebook

14 Oktober 2010
BAGI Anda pengguna jejaring sosial sudah selayaknya berhati-hati. Kejahatan dengan menggunakan media jejaring sosial semakin merajalela.

Devi Permatasari contohnya. Gara-gara berteman dengan seseorang di Facebook, siswi SMPN 28 Kota Bandung ini diduga menjadi korban penculikan oleh orang yang baru dikenalnya dari akun tersebut. Sudah satu pekan siswi berusia 13 tahun ini menghilang dan tidak ada kabar beritanya.

Beberapa waktu lalu, bungsu dari dua bersaudara ini berkenalan di Facebook dengan seseorang bernama Reno. Selasa (5/10) Devi dijemput Reno saat pulang sekolah di depan sekolahnya di Jln. Solontongan Bandung. Setelah kejadian tersebut, Devi menghilang dan tidak pernah memberi kabar.

Orang tua Devi, Usdi Rus-wandi mengatakan, berdasarkan informasi dari teman-teman di sekolahnya, Devi baru beberapa hari mengenal priabernama Reno di Facebook-nya. Teman-temannya juga tidak tahu seperti apa per-awakan Reno, sebab waktu dijemput dia ada di dalam mobil," kata Usdi saat dihubungi, Selasa (12/10).

Usdi berharap. Devi segera memberikan kabar mengenai keberadaannya saat ini. "Kakaknya pernah membuka Facebook Devi. Di sana Devi berkenalan dengan pria yang bernama Reno. Perawatannya dewasa seperti yang sudah kuliah. Akan tetapi, sekarang Facebook Devi tidak bisa dibuka lagi. Tidak tahu diblokir oleh siapa," ucapnya.

Kepala SMPN 28 Bandung Yusuf menuturkan, kejadian ini harus menjadi perhatian bagi para orang tua. Sebab, kecanggihan teknologi ternyata bisa membawa dampak buruk terhadap anak. Orang tua pun harus semakin intensif mengawasi pergaulan anaknya di luar sekolah karena sekolah memiliki keterbatasan untuk mengawasi seluruh siswanya.

Sementara itu, kriminolog dan sosiolog Universitas Padjadjaran Yesmil Anwar mengatakan, penculikan melalui akun jejaring sosial merupakan salah satu fenomena yang muncul seiring menjamurnya penggunaan jejaring sosial di Indonesia.

Yesmil menyatakan, jika tidak ada upaya untuk memperketat regulasi serta penegakan hukum, kejadian serupa akan terus berulang. Sebab harus diakui, masyarakat Indonesia belum cukup terdidik untuk memanfaatkan teknologi dengan baik. "Komunitas di masyarakat termasuk pendidik, akademisi, guru, orang tua harus bersinergi untuk mengarahkan penggunaan teknologi informasi ini ke arah yang benar, tentunya dengan basis etika dan moral," katanya.

Sementara itu, Polisi Sektor Kota Besar Lengkong langsung membentak tim khusus untuk menyelidiki kasus dugaan penculikan Devi. Kapolsektabes Lengkong Ajun Komisaris

Philemon Ginting di Bandung, Rabu (13/10) mengatakan, pihak kepolisian belum memastikan pelaku penculikan tersebut yang bernama Reno atau bukan. Sebab, baru kesaksian dari dua rekan korban.

Untuk memastikan kebenaran keterangan saksi, menurut dia, pihaknya sudah memeriksa akun Facebook milik Devi.

Hanya, polisi tidak menemukan adanya histori percakapan ataupun kontak melalui m-box FB. Di samping itu, pihaknya juga sudah berusaha menghubungi telefon korban. Hanya, dari hari pertama, tiga nomor telefon yang dimiliki korban dalam kondisi tidak aktif.

"Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bisa benar penculikan, atau juga karena kehendak si anak itu sendiri," ucapnya. Jika pelaku tertangkap, polisi pun akan menerapkan Undang-Undang Perlindungan Anak atas tuduhan melarikan anak di bawah umur.
Batavia.co.id(Nuryani/Yedi SupriyadirPR")***

sumber : http://ratklaten.blogspot.com/2010/10/hilang-setelah-berteman-di-facebook.html

Posted by godeks on Wednesday 20 October 2010 - 10:02:28  printer friendly create pdf of this news item
Polri Keluarkan SP3 Kasus Hilangnya Ayat Tembakau


Polri Keluarkan SP3 Kasus Hilangnya Ayat Tembakau


Jakarta, (Analisa)

Badan Reserse dan Kriminal Polri  mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan terhadap kasus hilangnya satu ayat tembakau yang diduga melibatkan Ketua Komisi IX DPR RI Ribka Tjiptaning.

"Pada awal proses gelar perkara pertama yang dilakukan penyidik ternyata bukan perbuatan pidana, tidak perlu dilihat siapa pelaku dan barang buktinya," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen Pol Iskandar Hasan di Jakarta, Selasa. Penyidik mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus hilangnya ayat tembakau tersebut dilakukan  secara bertahap, ujarnya.

Koalisi Anti Korupsi Ayat Rokok (Kakar) melaporkan ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) atas hilangnya ayat 2 Pasal 113 UU Kesehatan No 36/2009 yang disahkan di DPR yang hilang saat hendak dijadikan Lembaran Negara. Pihak DPR dan Sekretariat Negara berdalih hal ini terjadi karena kesalahan teknis. Namun, sejumlah aktivis menilai ayat tersebut sengaja dihilangkan karena akan merugikan industri rokok.

Bunyi ayat yang hilang, namun kini telah dikembalikan pada tempatnya itu adalah "Zat aditif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cair, dan gas yang bersifat aditif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan atau masyarakat sekelilingnya. SP3 tersebut dikeluarkan pada tanggal 15 Oktober 2010 yang ditandatangani Kepala Unit IV/Dokpol atas nama Direktur I Keamanan dan Trans Nasional Kombes Pol Agus Sunardi.

"Setelah Polri mengeluarkan SP3 terhadap kasus ini, kemungkinan ada pihak yang akan praperadilan kepada Polri dan kami persilahkan, bila ada novum baru akan dilanjutkan," kata Iskandar.  (Ant)




Sumber : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=72815:polri-keluarkan-sp3-kasus-hilangnya-ayat-tembakau&catid=3:nasional&Itemid=128
Posted by godeks on Wednesday 20 October 2010 - 07:45:19  printer friendly create pdf of this news item
UNICEF Desak Thailand Berantas Pornografi Anak


UNICEF Desak Thailand Berantas Pornografi Anak



BADAN PBB urusan anak-anak (UNICEF) mendesak pemerintah Thailand mengambil tindakan tegas terhadap orang-orang yang kedapatan memproduksi, mendistribusikan atau menjual pornografi anak.

Seruan itu dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap laporan media lokal bahwa DVD pornografi anak kini diperjualbelikan secara terbuka di berbagai kawasan Bangkok yang populer dengan turis.

"Penjualan materi demikian dilakukan secara terang-terangan dan itu merupakan pelanggaran serius hak anak-anak, dan perbuatan tersebut hendaknya tidak ditolerir walau sehari lagi," ungkap perwakilan UNICEF di PBB Tomoo Hozumi dalam sebuah pernyataan.

"Thailand telah membuat kemajuan besar dalam melindungi anak-anak dari eksploitasi seksual dan berbagai bentuk penganiayaan lain," papar Hozumi.

"Namun dengan tidak merespon secara sigap terhadap laporan-laporan media tersebut, maka hal itu dapat membahayakan reputasinya sebagai sebuah negara yang dewasa ini bekerja keras untuk menghentikan eksploitasi anak."

Thailand terkenal karena prostitusinya yang tumbuh pesat dan perdagangan seks anak akan tetapi pemerintah negara tersebut telah melakukan berbagai upaya dalam beberapa tahun terakhir untuk membersihkan citranya. (afp/bh)

Sumber : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=72099:unicef-desak-thailand-berantas-pornografi-anak&catid=83:umum&Itemid=145
Posted by godeks on Thursday 14 October 2010 - 09:17:22  printer friendly create pdf of this news item
Astaghfirullah, Kekerasan Anak di Indonesia Masuk Katagori Tersadis


Astaghfirullah, Kekerasan Anak di Indonesia Masuk Katagori Tersadis

Senin, 27 September 2010, 15:41 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Modus kekerasan terhadap anak di Indonesia dikategorikan tersadis. Pelaku tega menyeterika, menyirami dengan air panas, bahkan membakar hidup-hidup. Di luar Indonesia, modus kekerasan anak berupa pemukulan atau penganiayaan ringan. Modus lainnya berupa penjualan anak untuk dijadikan budak seks atau pekerja.

Kematian bocah 3,5 tahun, Indah Sari, karena dibakar ibu kandungnya, di Serpong, Tangerang adalah salah satu bukti kekerasan anak di Indonesia. "Modusnya lebih sadis," terang Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, di kantornya, Senin (27/9). Lebih parah lagi, Arist membeberkan anak digorok ibu sendiri karena sang ibu tidak punya uang.

Dia mengatakan kekerasan seperti itu mengakibatkan anak ketika dewasa berlaku kejam terhadap anak-anak lainnya. Arist mengatakan trauma psikologis di masa kecil kemungkinan besar mengakibatkan mereka membalas dendam atas apa yang pernah mereka alami.

Data Komnas Perlindungan Anak, sejak Januari hingga September 2010 sejumlah 2.044 kasus kekerasan terhadap anak terjadi. Jumlah tersebut mengungguli total kasus yang sama pada tahun 2009 dan dua tahun sebelumnya. Pada 2009, jumlah kasus hanya 1.998. Setahun sebelumnya, jumlah kasus mencapai 1.826. Sedangkan pada 2007, total kasus yang terjadi mencapai 1.510.

Pada 2007 kekerasan psikis terhadap anak paling mendominasi. Jumlahnya mencapai 642. Sementara kekerasan seksual berjumlah 527. Kekerasan psikis mencapai 341. Pada 2009, kekerasan seksual mendominasi. Angkanya mencapai 705. Hal yang sama juga terjadi pada 2010. Kekerasan seksual terhadap anak mencapai 592. Arist mengatakan semua kasus tersebut terjadi di Jabodetabek.

Red:
Siwi Tri Puji B
Rep: c29

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/09/27/136725-astaghfirullah-kekerasan-anak-di-indonesia-masuk-katagori-tersadis
Posted by B O D O on Monday 11 October 2010 - 04:37:52  printer friendly create pdf of this news item
Orangtua Adukan Polisi ke Satgas Antimafia Hukum


6 Anak Dianiaya Polisi

Orangtua Adukan Polisi ke Satgas Antimafia Hukum

Jum'at, 2 Juli 2010 - 13:25 wib
Fahmi Firdaus - Okezone


Satgas Antimafia Hukum (Foto: Koran SI)
JAKARTA - Dua perempuan warga Medan, mengadukan polisi ke Satgas Antimafia Hukum. Mereka menganggap, aparat Polsek Bandar Pulau memberikan tuduhan palsu serta menganiaya anak mereka.

Nurmaidah ibu dari Boby Manalu (15) dan Rizkiana, ibu dari Sahdan Siahaan (16), didampingi kuasa hukum mendatangi kantor Satgas, juga melaporkan dugaan rekayasa kasus dan pemerasan.

Selain dua anak tersebut, polisi juga menangkap empat anak-anak lainnya, yaitu Prima Saritua Sarumpaet (15), Nasib Gultom (17), Saraha Pandjaitan (14), dan Tarolai Simanjuntak (15).

Kuasa hukum korban, Elisabeth Paranginangin mengatakan, pada 12 Januari lalu, korban bernama Boby Manalu (15) bersama rekan-rekannya ditangkap karena dituduh mencuri laptop milik anggota DPRD.

“Dugaan polisi itu tidak beralasan karena barang bukti yang diajukan, bukan barang bukti dari pencurian,” ujar Elisabeth di Kantor Satgas, Jakarta, Jumat (2/7/2010).

Elisabeth melanjutkan, pembuatan BAP di Polsek Bandar Pulau, Medan, juga tidak didampingi orangtua para korban.

Polisi, lanjutnya, juga diduga melakukan pemerasan karena orangtua harus membayar sejumlah uang.

“Ini motifnya jelas. Ini target polisi. Kami juga ingin meminta penagguhan penahanan. Saat ini korban sudah masuk ke fase pengadilan di Tanjung Balai,” sambungnya.

Elisabeth menerangkan, pada 13 Januari, polisi membawa korban untuk mengambil barang bukti dan menjemput tiga korban lainnya, yaitu Nasib Gultom, Saraha Pandjaitan, dan Tarolai Simanjuntak (15). Korban disuruh menunjukkan dan mengambil apa saja yang diminta polisi.

Menurutnya, anak-anak di bawah umur itu diborgol dan dianiaya untuk dipaksa mengakui perbuatan mereka. Di dalam tahanan korban dicampur dengan tahanan dewasa.

“Korban juga sempat dianiaya dengan dipukul menggunakan gagang sapu dan ditampar, serta sempat ditodong dengan senajata api,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah melaporkan kasus ini ke Divpropam Polda Sumatra Utara, namun tidak ditanggapi. “Kami juga menunjukkan bukti visum bahwa korban dianiaya,” tandasnya.
(ton)SUmber : http://news.okezone.com/read/2010/07/02/339/348913/orangtua-adukan-polisi-ke-satgas-antimafia-hukum
Posted by B O D O on Monday 11 October 2010 - 04:19:59  printer friendly create pdf of this news item
70% Pelaku Kekerasan pada Anak Ternyata Ibu


70% Pelaku Kekerasan pada Anak Ternyata Ibu

Senin, 27 September 2010 - 22:00 wib
JAKARTA - Angka kekerasan terhadap anak di wilayah Jabodetabek sepanjang 2010 terus naik seiring dengan tingkat kesadisannya.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) bahkan mencatat pelaku kekerasan terhadap anak sebesar 70 persen dilakukan ibu.

Berdasarkan data Komnas PA, tercatat hingga pertengahan pekan ketiga September 2010 sebanyak 2.044 kasus. Angka ini meningkat hingga 30 persen dari 2009 lalu yang tercatat 1.998 kasus. Pada 2008 tercatat 1.826 kasus dan 1.510 kasus pada 2007.

Menurut Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait sebesar 70 persen dari kasus tersebut dilakukan oleh ibu. Baik ibu kandung, ibu tiri, ibu guru, ibu angkat, dan tante atau perempuan lainnya.

"Mereka (Ibu) depresi akibat tekanan ekonomi dan permasalahan dengan pria, namun selalu anak yang menjadi korbannya," ungkapnya di Jakarta, Senin (27/9/2010).

Tahun ini Komnas PA mencatat sejumlah kasus kekerasan terhadap anak dilakukan oleh ibu kandungnya. Seperti kasus ibu kandung menggorok anaknya sendiri di Pasar Minggu, Jakarta, ibu menyiram anaknya dengan air mendidih.

“Anak diceburkan ke dalam sumur dan dipatahkan kakinya hanya karena rewel minta susu," ungkap Arists Merdeka Sirait.
(Isfari Hikmat/Koran SI/ful)
Sumber : http://news.okezone.com/read/2010/09/27/337/376594/70-pelaku-kekerasan-pada-anak-ternyata-ibu
Posted by B O D O on Monday 11 October 2010 - 04:12:51  printer friendly create pdf of this news item
Go to page   <<        >>