page.php?23
 
Pemain Sinetron Perkosa ABG


Pemain Sinetron Perkosa ABG

10:55, 29/11/2010
Pemain Sinetron Perkosa ABG
BACA BAP: Robby Singh membaca Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polresta Barelang, Minggu (28/11) kemarin. //Wijaya Satria/Batam Pos/rpg

Korban Dijanjikan Dijumpakan dengan Artis-artis FFI

BATAM-Penyelenggaraan FFI Batam ternoda oleh ulah dari salah satu aktor pendukung FFI sekaligus pemeran pembantu di salah satu sinetron Tv swasta. Aktor dengan nama Roby Singh (27), telah dilaporkan ke Polresta Barelang  Sabtu (27/11) atas dugaaan pemerkosaan terhadap fansnya, Bunga, (13), siswi SMP di Batam.


Perbuatan aktor pemeran pembantu tersebut menurut laporan dari korban yang didampingi  orangtunya, dilakukan di Hotel Amir kamar nomor 622, tempat para artis pendukung FFI menginap.  ‘’Kejadiannya Sabtu (27/11) sekitar pukul 01.00 dini hari. Pengakuan korban saat itu memang dipaksa dan tak berdaya,” ujar kanit VI tindak pidana tertentu (tipiter), Iptu I Ketut Artha.

I Ketut mengatakan, bahwa modus pemerkosaan yang dilakukan Roby Singh, dengan mengibuli korban dan menjanjikan akan mempertemukan seluruh rombongan artis. “Saya sebelumnya dijanjiin akan diperkenalkan pada seluruh artis,’’kata Bunga.

Bunga sempat diajak pelaku ke Noname kafe  namun sebentar saja. Kemudian ia mengajak korban saya kembali ke hotel dan mengatakan bahwa di kamar tempat ia menginap sudah menunggu para artis. ‘’Saya percaya padanya. Namun Saat saya masuk, ternyata di dalam tak ada artis satupun,” ujar Bunga.


Masih kata Bunga, Roby menyuruhnya istirahat sebentar dan artisnya akan dipanggil. Tak berapa lama Bunga duduk di samping tempat tidur, tahu-tahu Roby langsung mendorong tubuhnya di tempat tidur dan melucuti pakaiannya satu persatu. Bunga mengatakan saat itu ia sempat melawan, tapi tenaganya tak kuat untuk berontak, sehingga terjadilah pemerkosaan. Kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh aktor pendukung FFI bocor infonya karena korban bercerita pada ortunya, bahwa ia telah dinodai oleh Roby.  Polisi akan menjeratnya dengan pasal 287 KUH-pidana pemerkosaan di bawah umur diperkuat dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang  perlindungan anak.


Roby Tertangkap di Bandara

Roby Singh ditangkap anggota Polresta Barelang dibandara Hang-Nadim Batam,  Sabtu (27/11) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Saya rasa pelaku sudah tahu kalau perbuatannya akan dilaporkan ke kepolisian oleh korban. Makanya ia segera menuju Bandara. Mungkin Roby ketakutan dan akan pulang ke Jakarta,” ujar Kanit VI Tipiter, Iptu I Ketut Artha.

Lanjutnya, I Ketut mengatakan, dengan laporan yang dibuat oleh orangtua korban, anggota Polresta Barelang Minggu pagi langsung melakukan pengejaran ke bandara.


Saat dilakukan penjemputan oleh kepolisian, Roby, tak melakukan perlawanan dan hanya menanyakan ada masalah apa dengan saya, seperti pura pura tak tahu tujuan penjemputan tersebut.  Dipihak lain, polisi berhasil mendapatkan bukti tentang laporan adanya dugaan pemerkosaan yang dilakukan Roby Singh.

Bukti yang didapat kepolisian mengenai dugaan pemerkosaan tersebut adalah rekaman CCTV yang dipasang di ruangan Hotel Amir. selain bukti CCTV yang sedang digali dan diteliti, polisi juga sudah memiliki bukti berupa ceceran sperma dan darah pada celana merah milik korban, Bunga.

“Kita sudah mendapat dua bukti kuat mengenai pemerkosaan yang dilakukan oleh aktor sinetron tersebut. Memang benar ada bukti sperma dan darah di celana merah tadi,” kata sumber di Mapolresta Barelang yang tak mau menyebut namanya.  (vie/rpg)

Sumber : http://www.hariansumutpos.com/2010/11/67247/pemain-sinetron-perkosa-abg.html
Posted by B O D O on Monday 29 November 2010 - 07:50:40  printer friendly create pdf of this news item
Astaga, Artis Delegasi FFI Diduga Cabuli Bocah SMP!


Astaga, Artis Delegasi FFI Diduga Cabuli Bocah SMP!

BATAM - Pembacaan nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2010 di Batam sedikit tercoreng. Pasalnya, salah satu artis yang menjadi delegasi diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan.

Berdasarkan informasi, peristiwa bermula saat artis berinisial RS mengajak gadis Batam yang masih di bawah umur ke hotel tempatnya menginap, Hotel Harbourbay Amir, Batam, Minggu (28/11/2010) dini hari.

Sebelum mengajak ke kamar hotel tempat seluruh panitia FFI menginap, RS mengajak korban yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu berkeliling kota Batam.


Karena merasa anaknya dilecehkan pria yang baru dikenal, orangtua korban melaporkan RS ke Mapolresta Barelang, Batam, Minggu (28/11) pagi.


Pihak panitia pelaksanaan acara FFI 2010 membenarkan laporan terhadap salah satu artisnya. Namun, panitia mengaku belum mendapat laporan dari polisi setempat atas laporan tersebut.


"Kami tahu kabar pelecehan itu tadi pagi. Kami dari panitia semestinya sudah dapat laporan dari polisi. Tapi sampai saat ini kami belum menerima laporan polisi ke kami," ujar Labbes Widar selaku Ketua Pelaksana FFI 2010 di Hotel Amir, Batam, Minggu (28/11/2010).

Labbes juga membenarkan, RS bagian dari salah satu delegasi yang dihadirkan panitia FFI 2010. Namun dia meminta semua pihak mengedepankan azas praduga tak bersalah.


"Memang yang bersangkutan menjadi salah satu delegasi kami. Tapi kami berharap semua pihak untuk tetap berpegang teguh pada azas praduga tidak bersalah. Karena sampai saat ini yang bersangkutan masih diproses," tutupnya. (nsa)


Sumber : http://id.omg.yahoo.com/news/astaga-artis-delegasi-ffi-diduga-cabuli-bocah-smp-zwp4-397913.html
Posted by B O D O on Monday 29 November 2010 - 07:45:13  printer friendly create pdf of this news item
Seks Pranikah, Ah!


Seks Pranikah, Ah!E-mail
Written by Edward
Monday, 29 November 2010 06:53
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) membeberkan, seks pra nikah di tiga kota besar cukup tinggi. Khusus Medan, 52 persen remajanya tak perawan, berada di urutan kedua setelah Surabaya. Ibe (bukan nama sebenarnya) termenung. Siswi kelas tiga salah satu SMK swasta di Medan ini menghela nafas ketika ditanya nilai sebuah virginitas (keperawanan) bagi dirinya pribadi.

Gadis manis berkulit putih dan berwajah oval itu berterus terang, telah merelakan mahkotanya kepada seorang lelaki yang lebih tua dua kali lipat umurnya dengan uang pengganti, Rp 10 juta. "Waktu itu Ibe masih kelas satu," katanya ketika ditemui Global di Warkop Sudirman, Jalan Haji Misbach Medan, baru-baru ini.

Sejak saat itu malam-malam Ibe, berganti dari pelukan seorang lelaki, ke pelukan lelaki lainnya. Sementara siang hari, dia sekolah tak ubahnya remaja lainnya.
Sedangkan Ris, mahasiswi semester III di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan, yang ditemui di lokasi sama, mengaku kehilangan keperawanan direnggut pacarnya. Saat itu mereka saling mencintai, namun kini wanita berambut sebahu itu selalu mengatakan "keparat itu" jika menceritakan tentang pacaranya. "Saya tidak mau mengingatnya lagi," ujarnya.

Potret kedua gadis remaja itu, boleh jadi tidak mewakili remaja di Medan. Namun hasil survei BKKBN 2010 itu, membuat banyak pihak tercenung. Sebanyak 52 persen remaja di Medan telah melakukan seks pra nikah alias tidak perawan. Angka tersebut, urutan kedua setelah Surabaya 54 persen. Urutan ketiga Jabodetabek 51 persen dan urutan ke empat Kota Bandung, 47 persen.
"Artinya dari 100 remaja, 52 sudah tidak perawan," ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarif usai memberikan sambutan acara Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, kemarin.


Kepala BKKBN Medan Drs Darussalam Pohan MAP ketika dimintai tanggapan menyatakan, pihaknya belum melakukan penelitian soal itu. "Kita akan lakukan penelitian terkait hal itu," sebutnya pada Global.

Kalangan orangtua yang memiliki anak gadis remaja di Medan mengaku ngeri mengetahui fakta yang diungkap BKKBN itu. "Anak kita seperti dikepung dengan informasi yang bisa menyebabkan mereka terjerumus kepada pergaulan bebas," kata Dra Jami'ah, warga Gatot Subroto yang memiliki 5 anak remaja.

Pimpinan Lembaga ibu dan Anak (El Diina) Sumut ini juga mengatakan, jika benar datanya demikian, ini satu pukulan berat bagi pemerintah khususnya pemerintah Kota Medan," sebutnya.

Menyikapi fenomena itu, sebagai orangtua yang ia lakukan adalah menanamkan pemahaman kepada anak-anak agar patuh pada orangtua dan agama. "Kemudian pesan saya kepada anak, pandai-pandailah memilih teman," tukasnya.

Penyakit Kelamin

Penelusuran Global, fenomena seks bebas dicurigai menjadi faktor penyakit kelamin yang mulai menjangkiti kalangan remaja Medan. Oktober lalu, Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan mencatat, dalam sehari sebanyak tiga remaja berobat ke RS Pirngadi karena penyakit kelamin. Sedangkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 persen.

Selain itu kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak 49,3 persen, homoseksual sebanyak 3,3 persen dan IDU 40,4 persen.

Fenomena ini turut mengundang keprihatinan anggota DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan Brilian Moktar. Dia mendorong Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara agar lebih serius melakukan upaya-upaya penanggulangan dan penanganan kasus HIV/AIDS yang dari waktu ke waktu jumlahnya terus bertambah.
Menurutnya, para penderita HIV/AIDS di Sumut belakangan cenderung dibiarkan tanpa penanganan serius. "Kalau dulu ada upaya karantina, sekarang cenderung dibiarkan," katanya.

Orang Tua Harus Waspada

Mendengar 52 persen remaja putri Kota Medan tak perawan, psikolog Irna Nauli yang sering menangani masalah keluarga dan remaja, merasa perlu berbagi tips. Kepada para orangtua, Irna mengimbau agar lebih hati-hati sebab tidak sedikit remaja melakukan hubungan intim di rumah saat orangtuanya tidak ada. Sedangkan di hotel, diperkirakan kecil kemungkinan karena memerlukan biaya untuk sewa penginapannya. "Remaja putri saat ini sudah berkurang rasa ketakutannya tidak perawan," ungkap Irna.

Ketua MUI Medan H Mohammad Hatta berpendapat beda. Katanya, untuk membuktikan remaja perempuan saat ini tak perawan lagi perlu ditelusuri fakta yang nyata bukan dengan praduga. Namun dia sepakat, masalah perawan merupakan kerhormatan bagi wanita, apalagi saat menjelang pernikahan nantinya.

Dia tidak menampik, terjadinya dekadensi moral terhadap remaja karena banyak berdiri cafe-cafe "esek-esek" yang dijadikan tempat ajang maksiat, belum lagi tempat hiburan malam dan lapangan yang seringkali dipergunakan remaja untuk lokasi pacaran.

Direktur Ekskutif LSM Jaringan Kesehatan/Kesejahteraan Masyarakat Del Yuzar menganggap, fenomena seks bebas perlu mendapat perhatian, tidak hanya oleh orangtua di rumah tapi juga sekolah. Saat ini remaja yang menimba ilmu di sekolah jarang sekali diberikan pendidikan seks karena dianggap tabu. "Padahal pendidikan seks di kalangan remaja sangat baik, sehingga mereka dapat mengetahui apa sebenarnya pendidikan seks agar terhindar dari perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau tak pantas melakukan hubungan intim, karena hanya kata cinta," terangnya.

Edward-Iin-Bambang-Swisma-Candra-Isvan  | Global | Medan
Sumber : http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=50629:seks-pranikah-ah&catid=25:metro&Itemid=53
Posted by godeks on Monday 29 November 2010 - 07:29:20  printer friendly create pdf of this news item
PRT di Bawah Umur Rentan Jadi Korban Kekerasan


Smaller
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Tak hanya di luar negeri, nasib pembantu rumah tangga di dalam negeri juga masih memprihatinkan. Sekitar 30 persen dari 412 korban kekerasan dialami pembantu rumah tangga (PRT) di bawah umur. Mereka kebanyakan berusia 14 tahun hingga 15 tahun. Mereka kerap dipukul, menjadi korban pelecehan seksual, dan tidak menerima upah.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan untuk Keadilan (LBH Apik), Lita Anggraeni, menyatakan upah pekerja rumah tangga tidak diberikan dengan alasan disimpan. “Padahal uang itu digunakan untuk kepentingan majikan,” tuturnya di Mapolsek Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (28/5).

Berdasarkan hasil surveinya, pekerja rumah tangga yang tidak mendapatkan upah hanya mendapatkan uang transpor untuk kembali ke kampung halaman. Si pekerja rumah tangga tidak berbuat apa-apa.

Kalaupun mendapatkan upah, jumlahnya akan berbeda. Jika usia Pekerja Rumah Tangga (PRT) di atas 17 tahun maka dia akan menerima upah di atas Rp 500 ribu. Jika usianya masih anak-anak, PRT hanya digaji Rp 250-300 ribu per bulan. “Padahal beban kerjanya sama,” ungkap Lita. Jam kerjanya terkadang melebihi batas, yakni ada yang bekerja 15 jam, bahkan lebih dari itu.

Kasus pelecehan seksual terhadap PRT juga pun dia temukan dan salah satu korban berasal dari Gunung Kidul, Jawa Tengah. Entah upahnya dibayar atau tidak, yang jelas dia hanya mendapatkan uang transpor untuk kembali ke kampung. Dia mengatakan kekerasan terhadap PRT di bawah umur seperti ini tidak bisa dibiarkan.

Red:
irf
Rep:
c29
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/05/28/117539-prt-di-bawah-umur-rentan-jadi-korban-kekerasan
Posted by B O D O on Thursday 25 November 2010 - 08:17:57  printer friendly create pdf of this news item
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Jawa Tengah Terus Meningkat


Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Jawa Tengah Terus Meningkat
Kekerasan dalam rumah tangga. Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Legal Resources Centre untuk Keadilan Jender dan Hak asasi manusia (LRC-KJHAM) mencatat, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan tiap tahunnya. "Selama bulan November 2009 sampai Oktober 2010 kami mencatat telah terjadi 620 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan korban sebanyak 1.106 perempuan dan 55 orang diantaranya meninggal dunia," kata Direktur LRC-KJHAM, Evarisan, di Semarang, Kamis.

Menurut dia jumlah tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang hanya terdapat 614 kasus dengan jumlah korban 1.091 perempuan serta korban meninggal dunia sebanyak 48 orang.

Hal tersebut diungkapkan Evarisan di sela aksi damai di kawasan videotron Jalan Pahlawan Semarang yang dilakukan puluhan aktivis untuk menuntut pemerintah memenuhi hak asasi perempuan.

Ia mengatakan jumlah kekerasan terhadap perempuan yang dicatat pihaknya tersebut bukanlah angka yang sesungguhnya karena kasus yang tidak terlaporkan jauh lebih besar lagi. "Hal tersebut membuktikan bahwa kekerasan berbasis jender masih menjadi penghambat bagi pemenuhan hak asasi perempuan seperti terancam tidak dapat menikmati hak hidup, hak untuk berkembang, hingga hak memperoleh keamanan dan keadilan," ujarnya.

Menurut dia minimnya tanggapan pemerintah terhadap permasalahan kaum perempuan menambah buruknya kondisi perempuan yang dapat dilihat dari masih digunakannya aturan hukum yang diskriminatif seperti sedikitnya jumlah kasus yang dituntut dan divonis di pengadilan, serta kecilnya anggaran yang dialokasikan untuk perempuan.

Kemudian, tidak adanya perlindungan atas keselamatan saat melapor, didamaikan dalam proses hukum tanpa ada jaminan kepastian pemenuhan hak-haknya, dan tidak adanya rehabilitasi serta reintegrasi sosial sehingga menjadi telantar secara ekonomi saat suami menjalani proses hukum.

"Fakta diskriminatif lainnya adalah dijatuhkannya vonis hukuman ringan terhadap pelaku pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, bahkan pelaku dibebaskan dari segala tuntutan dan tidak ditahan walaupun telah terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar hukum," katanya.

Red:
Siwi Tri Puji B
Sumber:
Ant
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/11/25/148851-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-di-jawa-tengah-terus-meningkat
Posted by B O D O on Thursday 25 November 2010 - 07:56:30  printer friendly create pdf of this news item
Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara

Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara Thursday, 25 November 2010


Sidang Pengadilan Negeri (PN) Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dengan terdakwa Pujiono Cahyo Widianto alias Syeikh Puji mencapai babak akhir, Rabu (24/11). Syekh Puji divonis empat tahun penjara dengan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara. Ia dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum ini digelar mulai pukul 09.30 WIB hingga 15.30 WIB. Syekh Puji didampingi kuasa hukumnya OC Kaligis.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan tindakan kesengajaan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Karena itulah, hakim memutuskan terdakwa yang juga pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, ini dihukum empat tahun penjara dan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara.

Selain itu, terdakwa juga dianggap memasung hak anak karena telah menikahi Lutviana Ulfa, yang pada 8 Agustus 2008 silam baru berusia 12 tahun.

Putusan majilis hakim ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan penjara selama enam tahun dan denda sebanyak Rp60 juta subsider enam bulan kurungan.

Selama sidang yang dipimpin hakim Hari Mulyanto ini telah memeriksa 43 saksi, terdiri atas saksi berkas dan ahli. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup.

Kuasa Hukum Syekh Puji OC Kaligis mengatakan, pihaknya akan mengajukan banding terkait keputusan perkara tersebut karena menganggap banyak fakta yang ada di persidangan tidak dimaksukkan dalam pertimbangan dalam keputusan. "Kami akan segera mengajukan banding, kami akan minta penggandaan putusan untuk kami pelajari sebagai bahan banding," katanya.

Salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng, Sunningsih mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan putusan hakim yang lebih rendah dari tuntutannya. "Kami tidak mempermasalahkan putusan itu, yang penting dakwaan yang kami sampaikan selama persidangan bisa terbukti," katanya.

Sidang yang dilakukan secara terbuka ini juga dipenuhi oleh warga dan aktivis perempuan. Puluhan polisi juga tampak mengamankan peridangan tersebut. Isak dua istri Syekh Puji, Lutviana Ulfa dan Ummi Hani (Istri Syekh Puji) juga mewarnai ruang persidangan ketika hakim memutuskan terdakwa dipenjara selama empat tahun



sumber : http://www.perempuan.com/index.php?aid=29140&cid=1&11%2F25%2F10%2C02%3A11%3A59




Posted by godeks on Thursday 25 November 2010 - 07:54:22  printer friendly create pdf of this news item
Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara

Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara Thursday, 25 November 2010


Sidang Pengadilan Negeri (PN) Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dengan terdakwa Pujiono Cahyo Widianto alias Syeikh Puji mencapai babak akhir, Rabu (24/11). Syekh Puji divonis empat tahun penjara dengan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara. Ia dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum ini digelar mulai pukul 09.30 WIB hingga 15.30 WIB. Syekh Puji didampingi kuasa hukumnya OC Kaligis.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan tindakan kesengajaan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Karena itulah, hakim memutuskan terdakwa yang juga pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, ini dihukum empat tahun penjara dan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara.

Selain itu, terdakwa juga dianggap memasung hak anak karena telah menikahi Lutviana Ulfa, yang pada 8 Agustus 2008 silam baru berusia 12 tahun.

Putusan majilis hakim ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan penjara selama enam tahun dan denda sebanyak Rp60 juta subsider enam bulan kurungan.

Selama sidang yang dipimpin hakim Hari Mulyanto ini telah memeriksa 43 saksi, terdiri atas saksi berkas dan ahli. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup.

Kuasa Hukum Syekh Puji OC Kaligis mengatakan, pihaknya akan mengajukan banding terkait keputusan perkara tersebut karena menganggap banyak fakta yang ada di persidangan tidak dimaksukkan dalam pertimbangan dalam keputusan. "Kami akan segera mengajukan banding, kami akan minta penggandaan putusan untuk kami pelajari sebagai bahan banding," katanya.

Salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng, Sunningsih mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan putusan hakim yang lebih rendah dari tuntutannya. "Kami tidak mempermasalahkan putusan itu, yang penting dakwaan yang kami sampaikan selama persidangan bisa terbukti," katanya.

Sidang yang dilakukan secara terbuka ini juga dipenuhi oleh warga dan aktivis perempuan. Puluhan polisi juga tampak mengamankan peridangan tersebut. Isak dua istri Syekh Puji, Lutviana Ulfa dan Ummi Hani (Istri Syekh Puji) juga mewarnai ruang persidangan ketika hakim memutuskan terdakwa dipenjara selama empat tahun



sumber : http://www.perempuan.com/index.php?aid=29140&cid=1&11%2F25%2F10%2C02%3A11%3A59




Posted by godeks on Thursday 25 November 2010 - 07:54:22  printer friendly create pdf of this news item
Iklan Rokok di Internet Bakal Dilarang


Rokok
Iklan Rokok di Internet Bakal Dilarang
Rabu, 17 November 2010 | 21:38 WIB
Shutter Stock
Ilustrasi
SYDNEY, KOMPAS.com - Australia pada Rabu (17/11/2010) akan mendorong pemberlakuan larangan iklan rokok melalui Internet.

Kebijakan ini untuk mencegah distributor agar tidak mempromosikan rokok murah atau bebas pajak, sebagai bagian dari pemangkasan tingkat perokok hingga 10 persen pada 2018.

Generasi muda Australia, usia 24-29 tahun, menduduki peringkat perokok tertinggi. Saat ini hampir mencapai 20 persen dari total perokok di negeri kangguru.

Australia memberlakukan larangan iklan rokok terketat dan sudah melarang iklan di televisi, radio, surat kabar, majalah dan seluruh acara olahraga.

Distributor dilarang memajang kemasan rokok dalam toko dan bungkus rokok tercetak foto kanker dan peringatan kesehatan, bahwa rokok dapat menyebabkan kanker.

"Larangan distributor menjual rokok dengan mencap murah atau bebas pajak merupakan langkah terakhir... pemerintah dalam aksi keras dan komprehensif supaya mengurangi tingkat perokok Australia," kata Menteri Kesehatan Nicola Roxon dalam mengumumkan peraturan yang akan diajukan pada parlemen.

"Bersama dengan upaya kami yang akan memberlakukan kemasan polos pada semua produk tembakau dimulai pada 2012, Australia pada jalur tepat dalam pengaturan keras terhadap tembakau," tambah Roxon.

"Penggunaan tembakau merupakan penyebab tunggal dan utama kematian prematur dan penyakit di Australia, menewaskan 15.000 orang setiap tahun dan menelan biaya 31,5 miliar dolar Australia (Rp 275 triliun).

Tingkat perokok di Australia telah menurun sejak pertengahan 1970-an saat larangan iklan pertama kali diberlakukan, menurunkan tingkat perokok dari 35 persen menjadi 19 persen sekarang.

Komite Australia untuk Rokok dan Kesehatan menyambut peraturan tersebut.

"Rokok sekarang dipromosikan melalui Internet, dan ada kecemasan mendalam bahwa iklan daring (online) dan laman jejaring sosial akan dimanfaatkan untuk mempromosikan tembakau pada anak muda," kata presiden komite Mike Daube.



sumber : http://internasional.kompas.com/read/2010/11/17/21382733/Iklan.Rokok.di.Internet.Bakal.Dilarang.
Posted by godeks on Monday 22 November 2010 - 05:07:29  printer friendly create pdf of this news item
Biadab! Ayah Perkosa Anak Kandung Sejak Berusia 11 Tahun

Biadab! Ayah Perkosa Anak Kandung Sejak Berusia 11 Tahun

Perilaku EF (36), warga Kelurahan Cimanggu, Kematan Tanah Sareal, Kota Bogor, memang tak pantas ditiru. Lelaki pengangguran ini tega memperkosa anak kandungnya, sebut saja Bunga (16), bahkan hingga lebih dari 10 kali.

Aksi bejad EF ini terungkap Selasa (2/11) lalu. Saat itu IT (32), istri tersangka, tiba di rumah seusai pulang dari bekerja dan memenukan anak gadisnya ini menangis.


Karena bingung, akhirnya, ia pun menanyakan kepada Bunga apa yang terjadi. Saat itulah, kepada sang Ibu, Bunga mengaku kalau ayah kandungnya memperkosanya. Tak hanya itu, karena sudah tak tahan lagi, Bunga juga mengaku kalau
ayah kandungnya tersebut sudah memperkosanya sejak ia masih berusia 11 tahun.

Mendengar pengakuan ini, IT jelas naik pitam. Ia pun kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bogor Kota. IT mengatakan kalau Bunga terpaksa merahasiakan aksi bejad EF selama bertahun-tahun karena selalu diancam akan dibunuh. ''Ia juga takut kalau adiknya nanti dipukuli,”ungkap IT yang ditemui di Polres Bogor, Kamis (4/11).


Sementara itu, EF mengaku memperkosa Bunga tiap kali istrinya berada di luar rumah. Ia mengatakan nekad melakukan perbuatan itu karena sang istri tak mampu memenuhi kebutuhan nafsu seksualnya. ''Istri saya selalu sakit. Makanya kami jarang sekali berhubungan badan,” katanya.


Kanit PPA (Perlindungan Anak dan Perempuan) Polres Bogor Kota, Ipda Ika Shanti mengatakan, jika dalam pemeriksaan EF terbukti telah melakukan pemerkosaan terhadap Bunga, maka lelaki itu akan dijerat dengan Pasal 294 KUHP dengan hukuman minimal tujuh tahun penjara. Meski demikian, tak tertutup kemungkinan pula, pelaku bisa dikenai Pasal Perlindungan Anak.

Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=49319
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 10:06:54  printer friendly create pdf of this news item
Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

BALIKPAPAN - Dunia pendidikan kota Balikpapan kembali tercemar dengan ulah arogansi seorang oknum guru sekolah dasar.

Belasan murid di Sekolah Dasar 017 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah dipukul dan bahkan belasan murid kelas lima SD itu disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, peristiwa kekerasan terjadi pada 2 November 2010 lalu. Kejadian bermula di ruang kelas lima, ketika oknum guru memasuki ruang kelas dan menemukan plastik es yang tumpah dan tercecer di lantai kelas.


Tidak ada satu pun murid yang mengakui perbuatannya sehingga membuat oknum guru tersebut naik pitam dan memberikan hukuman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh tenaga pendidik tersebut. Beberapa murid sempat ditampar dan sejumlah murid lainnya dihukum dengan disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Akibat perlakuan yang diluar batas itu, murid-murid melaporkan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Sabtu lalu, sejumlah orangtua siswa dan pihak sekolah serta kelurahan dan kepolisian menggelar pertemuan guna menyelesaikan persoalan tersebut.


Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dan oknum guru menyesali dan menyampaikan permohonan maaf, serta membuat penyataan tertulis agar tidak mengulangi perbuatan itu.


Saat sejumlah media mendatangi, oknum guru menolak untuk diwawancarai bahkan marah ketika media televisi lokal mengarahkan kamera ke arah wajahnya. “Sudah-sudah saya tidak mau, pokoknya masalah sudah selesai dak tidak perlu diungkit-ungkit lagi,” ketus guru tersebut, Minggu (7/11/2010).


Sementara Kepala Sekolah Dasar 017 Karang Rejo enggan bicara banyak dan menyerahakan soal sanksi kepada Dinas Pendidikan Balikpapan.


“Menyesalkan kejadian ini dan sudah diselesaikan di kelurahan dengan orangtua murid. Ini bahan jadi evaluasi dan jadi pelajaran. Diknas berhak keluarkan sanksi,” ujar Kepala Sekolah SD 017, Misti.


Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=49964
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 09:58:14  printer friendly create pdf of this news item
Go to page   <<        >>