page.php?23
 
Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Jawa Tengah Terus Meningkat


Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Jawa Tengah Terus Meningkat
Kekerasan dalam rumah tangga. Ilustrasi
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Legal Resources Centre untuk Keadilan Jender dan Hak asasi manusia (LRC-KJHAM) mencatat, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan tiap tahunnya. "Selama bulan November 2009 sampai Oktober 2010 kami mencatat telah terjadi 620 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan korban sebanyak 1.106 perempuan dan 55 orang diantaranya meninggal dunia," kata Direktur LRC-KJHAM, Evarisan, di Semarang, Kamis.

Menurut dia jumlah tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang hanya terdapat 614 kasus dengan jumlah korban 1.091 perempuan serta korban meninggal dunia sebanyak 48 orang.

Hal tersebut diungkapkan Evarisan di sela aksi damai di kawasan videotron Jalan Pahlawan Semarang yang dilakukan puluhan aktivis untuk menuntut pemerintah memenuhi hak asasi perempuan.

Ia mengatakan jumlah kekerasan terhadap perempuan yang dicatat pihaknya tersebut bukanlah angka yang sesungguhnya karena kasus yang tidak terlaporkan jauh lebih besar lagi. "Hal tersebut membuktikan bahwa kekerasan berbasis jender masih menjadi penghambat bagi pemenuhan hak asasi perempuan seperti terancam tidak dapat menikmati hak hidup, hak untuk berkembang, hingga hak memperoleh keamanan dan keadilan," ujarnya.

Menurut dia minimnya tanggapan pemerintah terhadap permasalahan kaum perempuan menambah buruknya kondisi perempuan yang dapat dilihat dari masih digunakannya aturan hukum yang diskriminatif seperti sedikitnya jumlah kasus yang dituntut dan divonis di pengadilan, serta kecilnya anggaran yang dialokasikan untuk perempuan.

Kemudian, tidak adanya perlindungan atas keselamatan saat melapor, didamaikan dalam proses hukum tanpa ada jaminan kepastian pemenuhan hak-haknya, dan tidak adanya rehabilitasi serta reintegrasi sosial sehingga menjadi telantar secara ekonomi saat suami menjalani proses hukum.

"Fakta diskriminatif lainnya adalah dijatuhkannya vonis hukuman ringan terhadap pelaku pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan, bahkan pelaku dibebaskan dari segala tuntutan dan tidak ditahan walaupun telah terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar hukum," katanya.

Red:
Siwi Tri Puji B
Sumber:
Ant
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/11/25/148851-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-di-jawa-tengah-terus-meningkat
Posted by B O D O on Thursday 25 November 2010 - 07:56:30  printer friendly create pdf of this news item
Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara

Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara Thursday, 25 November 2010


Sidang Pengadilan Negeri (PN) Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dengan terdakwa Pujiono Cahyo Widianto alias Syeikh Puji mencapai babak akhir, Rabu (24/11). Syekh Puji divonis empat tahun penjara dengan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara. Ia dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum ini digelar mulai pukul 09.30 WIB hingga 15.30 WIB. Syekh Puji didampingi kuasa hukumnya OC Kaligis.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan tindakan kesengajaan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Karena itulah, hakim memutuskan terdakwa yang juga pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, ini dihukum empat tahun penjara dan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara.

Selain itu, terdakwa juga dianggap memasung hak anak karena telah menikahi Lutviana Ulfa, yang pada 8 Agustus 2008 silam baru berusia 12 tahun.

Putusan majilis hakim ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan penjara selama enam tahun dan denda sebanyak Rp60 juta subsider enam bulan kurungan.

Selama sidang yang dipimpin hakim Hari Mulyanto ini telah memeriksa 43 saksi, terdiri atas saksi berkas dan ahli. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup.

Kuasa Hukum Syekh Puji OC Kaligis mengatakan, pihaknya akan mengajukan banding terkait keputusan perkara tersebut karena menganggap banyak fakta yang ada di persidangan tidak dimaksukkan dalam pertimbangan dalam keputusan. "Kami akan segera mengajukan banding, kami akan minta penggandaan putusan untuk kami pelajari sebagai bahan banding," katanya.

Salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng, Sunningsih mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan putusan hakim yang lebih rendah dari tuntutannya. "Kami tidak mempermasalahkan putusan itu, yang penting dakwaan yang kami sampaikan selama persidangan bisa terbukti," katanya.

Sidang yang dilakukan secara terbuka ini juga dipenuhi oleh warga dan aktivis perempuan. Puluhan polisi juga tampak mengamankan peridangan tersebut. Isak dua istri Syekh Puji, Lutviana Ulfa dan Ummi Hani (Istri Syekh Puji) juga mewarnai ruang persidangan ketika hakim memutuskan terdakwa dipenjara selama empat tahun



sumber : http://www.perempuan.com/index.php?aid=29140&cid=1&11%2F25%2F10%2C02%3A11%3A59




Posted by godeks on Thursday 25 November 2010 - 07:54:22  printer friendly create pdf of this news item
Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara

Syekh Puji Divonis Empat Tahun Penjara Thursday, 25 November 2010


Sidang Pengadilan Negeri (PN) Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, dengan terdakwa Pujiono Cahyo Widianto alias Syeikh Puji mencapai babak akhir, Rabu (24/11). Syekh Puji divonis empat tahun penjara dengan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara. Ia dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sidang yang dinyatakan terbuka untuk umum ini digelar mulai pukul 09.30 WIB hingga 15.30 WIB. Syekh Puji didampingi kuasa hukumnya OC Kaligis.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan tindakan kesengajaan melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa anak untuk melakukan persetubuhan dengannya atau orang lain.

Karena itulah, hakim memutuskan terdakwa yang juga pengasuh pondok pesantren Miftahul Jannah di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, ini dihukum empat tahun penjara dan denda Rp60 juta subsider empat bulan penjara.

Selain itu, terdakwa juga dianggap memasung hak anak karena telah menikahi Lutviana Ulfa, yang pada 8 Agustus 2008 silam baru berusia 12 tahun.

Putusan majilis hakim ini lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan penjara selama enam tahun dan denda sebanyak Rp60 juta subsider enam bulan kurungan.

Selama sidang yang dipimpin hakim Hari Mulyanto ini telah memeriksa 43 saksi, terdiri atas saksi berkas dan ahli. Pemeriksaan dilakukan secara tertutup.

Kuasa Hukum Syekh Puji OC Kaligis mengatakan, pihaknya akan mengajukan banding terkait keputusan perkara tersebut karena menganggap banyak fakta yang ada di persidangan tidak dimaksukkan dalam pertimbangan dalam keputusan. "Kami akan segera mengajukan banding, kami akan minta penggandaan putusan untuk kami pelajari sebagai bahan banding," katanya.

Salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng, Sunningsih mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan putusan hakim yang lebih rendah dari tuntutannya. "Kami tidak mempermasalahkan putusan itu, yang penting dakwaan yang kami sampaikan selama persidangan bisa terbukti," katanya.

Sidang yang dilakukan secara terbuka ini juga dipenuhi oleh warga dan aktivis perempuan. Puluhan polisi juga tampak mengamankan peridangan tersebut. Isak dua istri Syekh Puji, Lutviana Ulfa dan Ummi Hani (Istri Syekh Puji) juga mewarnai ruang persidangan ketika hakim memutuskan terdakwa dipenjara selama empat tahun



sumber : http://www.perempuan.com/index.php?aid=29140&cid=1&11%2F25%2F10%2C02%3A11%3A59




Posted by godeks on Thursday 25 November 2010 - 07:54:22  printer friendly create pdf of this news item
Iklan Rokok di Internet Bakal Dilarang


Rokok
Iklan Rokok di Internet Bakal Dilarang
Rabu, 17 November 2010 | 21:38 WIB
Shutter Stock
Ilustrasi
SYDNEY, KOMPAS.com - Australia pada Rabu (17/11/2010) akan mendorong pemberlakuan larangan iklan rokok melalui Internet.

Kebijakan ini untuk mencegah distributor agar tidak mempromosikan rokok murah atau bebas pajak, sebagai bagian dari pemangkasan tingkat perokok hingga 10 persen pada 2018.

Generasi muda Australia, usia 24-29 tahun, menduduki peringkat perokok tertinggi. Saat ini hampir mencapai 20 persen dari total perokok di negeri kangguru.

Australia memberlakukan larangan iklan rokok terketat dan sudah melarang iklan di televisi, radio, surat kabar, majalah dan seluruh acara olahraga.

Distributor dilarang memajang kemasan rokok dalam toko dan bungkus rokok tercetak foto kanker dan peringatan kesehatan, bahwa rokok dapat menyebabkan kanker.

"Larangan distributor menjual rokok dengan mencap murah atau bebas pajak merupakan langkah terakhir... pemerintah dalam aksi keras dan komprehensif supaya mengurangi tingkat perokok Australia," kata Menteri Kesehatan Nicola Roxon dalam mengumumkan peraturan yang akan diajukan pada parlemen.

"Bersama dengan upaya kami yang akan memberlakukan kemasan polos pada semua produk tembakau dimulai pada 2012, Australia pada jalur tepat dalam pengaturan keras terhadap tembakau," tambah Roxon.

"Penggunaan tembakau merupakan penyebab tunggal dan utama kematian prematur dan penyakit di Australia, menewaskan 15.000 orang setiap tahun dan menelan biaya 31,5 miliar dolar Australia (Rp 275 triliun).

Tingkat perokok di Australia telah menurun sejak pertengahan 1970-an saat larangan iklan pertama kali diberlakukan, menurunkan tingkat perokok dari 35 persen menjadi 19 persen sekarang.

Komite Australia untuk Rokok dan Kesehatan menyambut peraturan tersebut.

"Rokok sekarang dipromosikan melalui Internet, dan ada kecemasan mendalam bahwa iklan daring (online) dan laman jejaring sosial akan dimanfaatkan untuk mempromosikan tembakau pada anak muda," kata presiden komite Mike Daube.



sumber : http://internasional.kompas.com/read/2010/11/17/21382733/Iklan.Rokok.di.Internet.Bakal.Dilarang.
Posted by godeks on Monday 22 November 2010 - 05:07:29  printer friendly create pdf of this news item
Biadab! Ayah Perkosa Anak Kandung Sejak Berusia 11 Tahun

Biadab! Ayah Perkosa Anak Kandung Sejak Berusia 11 Tahun

Perilaku EF (36), warga Kelurahan Cimanggu, Kematan Tanah Sareal, Kota Bogor, memang tak pantas ditiru. Lelaki pengangguran ini tega memperkosa anak kandungnya, sebut saja Bunga (16), bahkan hingga lebih dari 10 kali.

Aksi bejad EF ini terungkap Selasa (2/11) lalu. Saat itu IT (32), istri tersangka, tiba di rumah seusai pulang dari bekerja dan memenukan anak gadisnya ini menangis.


Karena bingung, akhirnya, ia pun menanyakan kepada Bunga apa yang terjadi. Saat itulah, kepada sang Ibu, Bunga mengaku kalau ayah kandungnya memperkosanya. Tak hanya itu, karena sudah tak tahan lagi, Bunga juga mengaku kalau
ayah kandungnya tersebut sudah memperkosanya sejak ia masih berusia 11 tahun.

Mendengar pengakuan ini, IT jelas naik pitam. Ia pun kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bogor Kota. IT mengatakan kalau Bunga terpaksa merahasiakan aksi bejad EF selama bertahun-tahun karena selalu diancam akan dibunuh. ''Ia juga takut kalau adiknya nanti dipukuli,”ungkap IT yang ditemui di Polres Bogor, Kamis (4/11).


Sementara itu, EF mengaku memperkosa Bunga tiap kali istrinya berada di luar rumah. Ia mengatakan nekad melakukan perbuatan itu karena sang istri tak mampu memenuhi kebutuhan nafsu seksualnya. ''Istri saya selalu sakit. Makanya kami jarang sekali berhubungan badan,” katanya.


Kanit PPA (Perlindungan Anak dan Perempuan) Polres Bogor Kota, Ipda Ika Shanti mengatakan, jika dalam pemeriksaan EF terbukti telah melakukan pemerkosaan terhadap Bunga, maka lelaki itu akan dijerat dengan Pasal 294 KUHP dengan hukuman minimal tujuh tahun penjara. Meski demikian, tak tertutup kemungkinan pula, pelaku bisa dikenai Pasal Perlindungan Anak.

Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=49319
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 10:06:54  printer friendly create pdf of this news item
Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

Parah... Guru SD Hukum Murid Jilat Es di Lantai

BALIKPAPAN - Dunia pendidikan kota Balikpapan kembali tercemar dengan ulah arogansi seorang oknum guru sekolah dasar.

Belasan murid di Sekolah Dasar 017 Kelurahan Karang Rejo, Balikpapan Tengah dipukul dan bahkan belasan murid kelas lima SD itu disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, peristiwa kekerasan terjadi pada 2 November 2010 lalu. Kejadian bermula di ruang kelas lima, ketika oknum guru memasuki ruang kelas dan menemukan plastik es yang tumpah dan tercecer di lantai kelas.


Tidak ada satu pun murid yang mengakui perbuatannya sehingga membuat oknum guru tersebut naik pitam dan memberikan hukuman yang tidak sepantasnya dilakukan oleh tenaga pendidik tersebut. Beberapa murid sempat ditampar dan sejumlah murid lainnya dihukum dengan disuruh menjilat es yang tercecer di lantai kelas.


Akibat perlakuan yang diluar batas itu, murid-murid melaporkan kejadian tersebut kepada orangtuanya. Sabtu lalu, sejumlah orangtua siswa dan pihak sekolah serta kelurahan dan kepolisian menggelar pertemuan guna menyelesaikan persoalan tersebut.


Dalam pertemuan tersebut pihak sekolah dan oknum guru menyesali dan menyampaikan permohonan maaf, serta membuat penyataan tertulis agar tidak mengulangi perbuatan itu.


Saat sejumlah media mendatangi, oknum guru menolak untuk diwawancarai bahkan marah ketika media televisi lokal mengarahkan kamera ke arah wajahnya. “Sudah-sudah saya tidak mau, pokoknya masalah sudah selesai dak tidak perlu diungkit-ungkit lagi,” ketus guru tersebut, Minggu (7/11/2010).


Sementara Kepala Sekolah Dasar 017 Karang Rejo enggan bicara banyak dan menyerahakan soal sanksi kepada Dinas Pendidikan Balikpapan.


“Menyesalkan kejadian ini dan sudah diselesaikan di kelurahan dengan orangtua murid. Ini bahan jadi evaluasi dan jadi pelajaran. Diknas berhak keluarkan sanksi,” ujar Kepala Sekolah SD 017, Misti.


Sumber : http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=49964
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 09:58:14  printer friendly create pdf of this news item
Banyak yang Terpaksa Jadi Yatim-Piatu


Banyak yang Terpaksa Jadi Yatim-Piatu


IMMANUEL Tegar, bayi berusia 1,5 bulan, hanyalah salah satu korban keganasan gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, 26 Oktober lalu.


Masih banyak korban lain yang bernasib sama dengan Tegar. Mereka tak cuma luka-luka, tapi juga kehilangan kedua orangtuanya. Reka Mayasari, gadis berusia 11 tahun asal Dusun 1 .ik ko. Desa Bulasat, Kecamatan Pagai Selatan, misalnya.


Bulasat adalah salah satu desa yangterkena dampak tsunami terparah. Sudah sejak tsunami menerjang dusunnya, Reka hampir tak tertolong. Kakinya patah, sebagian tubuhnya terinfeksi karena tertusuk potongan kayu.


Beruntung, hari Minggu lalu relawan dari Yayasan Pusaka Indonesia yang tengah menyalurkan bantuan ke Bulasat menemukannya. Reka mengungsi hampir 4 km dari bibir pantai ke arah perbukitan di dusun itu.

Saat ditemukan, kakinya sudah membiru karena patah. Badannya juga terinfeksi karena potongan kayu menembusnya. "Kondisinya sudah sangat kritis. Kami tandu dari bukitsampai ke pantai, kata Rulianto, relawan dari Pusaka Indonesia.


Banyak pihak yang tergugah untuk menyelamatkan masa depan anak-anak malang yang terpaksa harus menjadi yatim-piatu itu. Partai Demokrat, misalnya, telah berinisiatif menjadikan mereka anak asuh.


"Mereka akan dapat beasiswa dari SD sampai SMA. Jadi, kebutuhan pendidikan dan biaya hidup anak-anak itu sampai dengan selesai SMA akan ditanggung oleh kami," kata Umar Arsyal, Ketua Divisi Tanggap Darurat DPP Partai Demokrac yang mengunjung Mentawai akhir bulan lalu.

Anak-anak yatim putu yang akan .lusuh tak cuma dari Mentawai, tapi juga Wasior, Papua Barat. Jumlahnya sekitar 50 orang. Usia mereka berkisar mulai dari balita hingga belasan tahun.


Demi menjaga hubungan anak-anak yatim-piatu dengan sanak keluarganya, mereka akan tetap menjalani pendidikan di Mentawai dan Wasior, termasuk pindah ke pemukiman baru setelah pemerintah menetapkan relokasi bagi korban bencana. "Mereka nantinya tetap tinggal di Mentawai dan Wasior. Tetapi kalau mereka kelak mau melanjutkan pendidikan ke Jakarta, tetap kita perhatikan," papar Umar.


Immanuel Tegar, lanjutnya, juga akan dijadikan anak asuh oleh Ibu Ani Yudhoyono. "Bayi itu tetap tinggal bersama keluarganya di Mentawai, bukan diasuh langsung Bu SBY. Biaya hidup dan pendidikannya ditanggung, tapi bukan adopsi," jelas Umar.

Lantas, bagaimana dengan pembiayaan anak-anak yatim-piatu itu? "Pembiayaannya dari teman-teman Fraksi Partai Demokrat DPR. Sudah disepakati teman-teman di fraksi akan menyisihkan sebagian pendapatan dan uang sakunya bila dia ditugaskan ke luar negeri," jawab Umar, sebagaimana dikutip Kompas.com. vn


Sumber : http://bataviase.co.id/node/446780
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 07:31:35  printer friendly create pdf of this news item
Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok


Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok


Balita Dua Tahun Kecanduan Rokok

Liputan6.com, Sidoarjo: Falen, balita berusia dua tahun asal Sidoarjo, Jawa Timur, belakangan menjadi terkenal karena kecanduan rokok. Saat ditemui di Dusun Ginonjo, Kecamatan Jabon, belum lama ini, Falen tengah asyik bermain dengan teman sebayanya. Anak kedua pasangan Samin dan Sulami ini diduga akrab dengan rokok karena terpengaruh lingkungan sekitar yang perokok.


Tingkat kecanduan Falen sudah tergolong berat, karena jika tidak diberi rokok ia akan menangis histeris. Dalam sehari bocah ini sudah sanggup menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok. Lebih parah lagi, bocah yang belum lagi lancar berkata-kata ini sudah mampu membedakan rasa dari berbagai merek rokok.

Meski menyayangkan perilaku sang buah hati, orangtua Falen mengaku kesulitan mencegah kebiasaan buruk itu. Jika dilarang, tak jarang bocah ini akan merokok secara sembunyi-sembunyi. Kini Samin dan Sulami menyatakan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghentikan kebiasaan merokok Falen.(ADO)
Posted by B O D O on Monday 08 November 2010 - 07:23:06  printer friendly create pdf of this news item
PENDIDIKAN KEBENCANAAN PERLU DIGALAKkAN


PENDIDIKAN KEBENCANAAN PERLU DIGALAKkAN

Tiga rangkaian bencana di Tanah Air di bulan oktober 2010, banjir bandang di Kab. Wasior, Meletusnya gunung Merapi dan gempa Tsunami di Pulau Mentawai, menjadi peringatan pentingnya kesiapsiagaan untuk pengurangan Resiko Bencana (PRB). Potensi, kapasitas, kerentanan dan dampak bencana mesti diantisipasi untuk meminimalkan kerugian dan jatuhnya korban. Kerusakan dan jatuhnya korban akibat bencana sesungguhnya bukan ancaman akhir, justru ini menjadi awal muculnya berbagai kondisi yang menyebabkan kerentanan kehidupan masyarakat korban bencana.

Menyikapi bencana alam yang kerap terjadi ini, Deputi Badan Pengurus Yayasan Pusaka Indonesia Drs. Prawoto didampingi Staf Divisi Lingkungan  Paijo menyikapi bahwa perlunya membangun budaya keselamatan dan ketangguhan komunitas dalam upaya  pengurangan resiko bencana. Tanpa mengurangi pentingnya upaya-upaya emergency respon, tetapi hal yang jauh lebih mendasar dari itu adalah mengembangkan ketangguhan komunitas, membangun organisasi yang tangguh agar mampu mengelola resiko bencana secara baik dan mengembangkan kebijakan yang mendukung dalam upaya pengurangan resiko bencana.

Dalam konteks penguatan kapasitas masyarakat,  pendidikan menjadi kunci dan factor penting untuk mengurangi dampaknya. Hal ini relevan karena kita hidup dikawasan yang memang rentan bencana, terlebih karena hingga detik inipun para ahli sekalipun tidak bisa memprediksi kapan waktunya akan tejadi bencana.

Sesuai Kerangka Aksi Hyogo yang diadopsi 168 pemerintah pada 2005 lalu, pengetahuan dan pendidikan diintenfikasikan sebagai salah satu dari lima prioritas aksi. Di prioritas ketiga dinyatakan, untuk menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan dalam membangun budaya keamanan dan pemulihan di semua level. Pendidikan menjadi poin masuk yang penting untuk membangun komunitas yang peduli pada pengurangan resiko bencana, kata Prass biasa dipanggil

Ditambahkan Paijo, saat ini kita telah mempunyai UU No. 24 Tahun 2007, tentang  Penanggulngan Bencana dimana salah satu mandatnya adalah untuk membentuk Badan Penanggulangan Bencana di Tingkat Daerah (BPBD), permasalahannya, kata Paijo apakah  BPBD ditingkat kabupaten mempunyai kapasitas yang cukup baik dan memperoleh dukungan pendanaan yang dapat mereka kelola dalam upaya pengurangan resiko bencana, baik pada situasi emergency atau pada upaya-upaya mitigasi lainnya. Hal lain yang juga menjadi penting adalah kemampaun BPBD dalam memetakan kebutuhan, mengelola dan mendistribusikan bantuan kepada kelompok sasaran secara merata. Meskipun dalam persalan distribusi selalu tidak mudah, tetapi hal ini menjadi bagian penting, karena dibanyak contoh kasus, tidak tersedianya kebutuhan bahan makanan, pakaian dan obat-obatan karena terkendalanya distribusi bantuan yang ada.

Pusaka Kirim Relawan ke Mentawai

Sebagai sebuah organisasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan anak dan pengurangan resiko bencana, Yayasan Pusaka Indonesia mengirim relawannya ke Mentawai, keberangkatan tim relawan ini dimaksudkan untuk melakukan assessment terhadap situasi mentawai. Assessment menjadi langkah awal bagi Pusaka Indonesia untuk bisa mengembangkan rencana lebih lanjut berperan aktif terhadap upaya pengurangan resiko bencana pada situasi emergency, pemulihan dan penguatan kapasitas masyarakat.
Posted by godeks on Friday 29 October 2010 - 09:44:31  printer friendly create pdf of this news item
Hilang Setelah Berteman di Facebook


Hilang Setelah Berteman di Facebook

14 Oktober 2010
BAGI Anda pengguna jejaring sosial sudah selayaknya berhati-hati. Kejahatan dengan menggunakan media jejaring sosial semakin merajalela.

Devi Permatasari contohnya. Gara-gara berteman dengan seseorang di Facebook, siswi SMPN 28 Kota Bandung ini diduga menjadi korban penculikan oleh orang yang baru dikenalnya dari akun tersebut. Sudah satu pekan siswi berusia 13 tahun ini menghilang dan tidak ada kabar beritanya.

Beberapa waktu lalu, bungsu dari dua bersaudara ini berkenalan di Facebook dengan seseorang bernama Reno. Selasa (5/10) Devi dijemput Reno saat pulang sekolah di depan sekolahnya di Jln. Solontongan Bandung. Setelah kejadian tersebut, Devi menghilang dan tidak pernah memberi kabar.

Orang tua Devi, Usdi Rus-wandi mengatakan, berdasarkan informasi dari teman-teman di sekolahnya, Devi baru beberapa hari mengenal priabernama Reno di Facebook-nya. Teman-temannya juga tidak tahu seperti apa per-awakan Reno, sebab waktu dijemput dia ada di dalam mobil," kata Usdi saat dihubungi, Selasa (12/10).

Usdi berharap. Devi segera memberikan kabar mengenai keberadaannya saat ini. "Kakaknya pernah membuka Facebook Devi. Di sana Devi berkenalan dengan pria yang bernama Reno. Perawatannya dewasa seperti yang sudah kuliah. Akan tetapi, sekarang Facebook Devi tidak bisa dibuka lagi. Tidak tahu diblokir oleh siapa," ucapnya.

Kepala SMPN 28 Bandung Yusuf menuturkan, kejadian ini harus menjadi perhatian bagi para orang tua. Sebab, kecanggihan teknologi ternyata bisa membawa dampak buruk terhadap anak. Orang tua pun harus semakin intensif mengawasi pergaulan anaknya di luar sekolah karena sekolah memiliki keterbatasan untuk mengawasi seluruh siswanya.

Sementara itu, kriminolog dan sosiolog Universitas Padjadjaran Yesmil Anwar mengatakan, penculikan melalui akun jejaring sosial merupakan salah satu fenomena yang muncul seiring menjamurnya penggunaan jejaring sosial di Indonesia.

Yesmil menyatakan, jika tidak ada upaya untuk memperketat regulasi serta penegakan hukum, kejadian serupa akan terus berulang. Sebab harus diakui, masyarakat Indonesia belum cukup terdidik untuk memanfaatkan teknologi dengan baik. "Komunitas di masyarakat termasuk pendidik, akademisi, guru, orang tua harus bersinergi untuk mengarahkan penggunaan teknologi informasi ini ke arah yang benar, tentunya dengan basis etika dan moral," katanya.

Sementara itu, Polisi Sektor Kota Besar Lengkong langsung membentak tim khusus untuk menyelidiki kasus dugaan penculikan Devi. Kapolsektabes Lengkong Ajun Komisaris

Philemon Ginting di Bandung, Rabu (13/10) mengatakan, pihak kepolisian belum memastikan pelaku penculikan tersebut yang bernama Reno atau bukan. Sebab, baru kesaksian dari dua rekan korban.

Untuk memastikan kebenaran keterangan saksi, menurut dia, pihaknya sudah memeriksa akun Facebook milik Devi.

Hanya, polisi tidak menemukan adanya histori percakapan ataupun kontak melalui m-box FB. Di samping itu, pihaknya juga sudah berusaha menghubungi telefon korban. Hanya, dari hari pertama, tiga nomor telefon yang dimiliki korban dalam kondisi tidak aktif.

"Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bisa benar penculikan, atau juga karena kehendak si anak itu sendiri," ucapnya. Jika pelaku tertangkap, polisi pun akan menerapkan Undang-Undang Perlindungan Anak atas tuduhan melarikan anak di bawah umur.
Batavia.co.id(Nuryani/Yedi SupriyadirPR")***

sumber : http://ratklaten.blogspot.com/2010/10/hilang-setelah-berteman-di-facebook.html

Posted by godeks on Wednesday 20 October 2010 - 10:02:28  printer friendly create pdf of this news item
Go to page   <<        >>